![]() |
|||
|
Wednesday, November 09, 2005
Wanna Be A Dancer
![]() ![]() Menjadi seorang penari adalah impian dan cita-cita sedari kecil. Rasanya tidak ada satu moment menari yang terlewatkan dalam chip memory otak yang berkapasitas pas-pasan. My first debut or should I say... first attempt menjadi penari adalah ketika masih di bangku playgroup. In one ocassion, sekolah mengadakan private performance for the parents and family. 'Hey let's watch your motoric skills of your children!" And there I was... with green tutu skirt, cream leotard, pink ballet shoes and a pair of wings... pretending to be some kind an insect... Kata ibu dan dilihat dari bukti otentik sebuah photo, ekspresi wajah saya sangat tidak bersahabat... malah cenderung flat!!! Ya saya berperan sebagai kupu-kupu yang terbang kesana kemari tanpa tujuan dan at the end harus terbirit-birit terbang karena diserang segerombolan kumbang. Terlepas dari image saya yang flat, cemberut dan postur khas anak kecil berperut buncit, ternyata saya bisa perform dan sesungguhnya saya sangat menikmati peran saya sebagi kupu-kupu nyasar itu. Ibu tampaknya menyadari bahwa saya punya jiwa seni panggung (and not doing some speech). Dari Les Tari Bali, Tari Jawa, Ballet sampai Tari Kejang pun saya jajal. Jam terbang berlatih dan manggungpun cukup tinggi. It would be enough for a resume. Mendengarkan segala jenis musik sambil menciptakan berbagai jurus pamungkas adalah bagian hidup saya. Uang jajan tidak pernah utuh karena habis untuk beli kaset (CD belum jaman). Hobi koleksi video-video yang bisa memberikan inspirasi gerakan-gerakan muktahir seperti video nya Michael Jackson, Janet Jackson even MC Hammer pun saya lakukan! And I could spend hours and hours just to get the move right and memorized. Gaya cakar-cakar kucing nya Michael Jackson di video Thriller, gaya gigit jari nya Janet Jackson di video Escapade dan gaya kaki keserimpetnya MC. Hammer! All moves were observed and learned 'till perfectly followed. Ketika SMA, saya diberikan kesempatan untuk menguji kemampuan saya dalam urusan lenggak lenggok ini. Kebetulan hal-hal seni sangat didukung oleh sekolah, apalagi kalau sampai bisa jadi juara. Hitung-hitung promosiin nama sekolah. Dan seringkali group dance kami diminta untuk mengisi banyak acara di kampus-kampus atau event lainnya dengan imbalan. Lumayan buat tambahan uang saku. Saat pertama kali menjuarai sebuah dance competition saya masih duduk di kelas 1 SMA. Dan saya masih ingat salah satu anggota group dance dari sekolah lain adalah Kris Dayanti. Wow!Adalah menjadi satu kebanggaan bahwa saya bisa mengalahkan seseorang yang sekarang sudah jadi Super Diva ini. Kalau lomba nyanyi yaaa... pasti langsung di-diskualifikasi pada saat memberikan nada dasar. Hihihi! Sayangnya, saya tidak memiliki kesempatan untuk benar-benar berkarir di dunia ini. Ya... ketika ayah sudah mengatakan 'tidak!' ya berarti tetap 'tidak!' Selepas SMA, proposal saya untuk meneruskan passion dibidang tari ini ditolak mentah-mentah. Dengan alasan yang sama seperti orangtua lainnya ketika mengetahui anaknya mau jadi seorang seniman. "Mau makan apa kamu kalau jadi seniman?" tanya ayah sambil menatap mata saya dalam-dalam. Pada akhirnya saya memilih untuk meninggalkan tanah air dan meneruskan ke jenjang selanjutnya... nun jauh di sebrang sana. Jurusan??? Tidak penting lagi! Rasa kecewa ini harus segera dialihkan. Yang penting sekolah dilanjutkan. Alhasil, karena jiwa dan passion tidak bisa bohong terus menerus, kuliah jadi Senin Kamis. Akhirnya nilai jadi tidak memuaskan. But yet, saya masih menyempatkan diri untuk manggung di beberapa occassion dari hasil coreography sendiri. Pokoknya menari tetap jalan terus. Bayangkan! Saya juga pernah sampai bergabung di kelas Ballet for one full semester just to be able to dance again. And the result? Very satisfying!!! Bahkan saya pernah didaulat untuk tampil membawakan tarian hasil karya sendiri di event terbesar untuk performing art di campus. I was in heaven... *sigh* 9 tahun sudah saya vacum dari dunia ini. Saya hanya perform di kamar mandi, di depan kaca. Atau ketika ada acara 'gaul' di club. Orang berpikir bahwa saya, cewe nggak bener, yang hanya gila clubbing. Padahal... saya hanya mencari sebuah media untuk bisa menyalurkan hasrat yang terpendam ini kan? Mungkin judgement mereka muncul ketika melihat saya naik meja bar atau apa saja yang bisa berfungsi jadi panggung. Pretending that I was performing before the audience. Tapi karena alasan kesehatan plus nasehat dari beberapa orang yang care dan concern sama saya akhirnya saya benar-benar memutuskan untuk stop dugem. Kini... Saya hanya menjadi seorang komentator, pemirsa TV yang cerewet, karena tak henti-hentinya mengomentari gaya dan ekspresi dancer-dancer di layar kaca. Especially those dancers who wear 'bulu-bulu' dan yang keberatan attribute. Tidak hanya costume yang saya komentari, tapi juga ekspresi para dancer yang sangaaaaattt tidak menjiwai musik atau isi lagunya. Ala robot! Lagunya sedih, tapi ekspresinya bisa sumringah gembira ria. Atau... mau lagunya slow atau fast... dancer nya sibuk dan asik sendiri meliuk-liuk nggak jelas. Waduuuuuh! Gregetan rasanya! Pokoknya kalau udah duduk depan TV dan ada tayangan seperti itu... (mostly Indonesian programs) saya cuma bisa ngelus dada dan meracau kesal. And at the end... saya cuma bisa menarik nafas dalam-dalam dan menjerit dalam hati... *"I wanna be a dancer!!!! Damn it!"* ![]() |
Fortuna, Singaporea student, a fashion marketer a.k.a fashion slave, and a proud mother of an adorable daughter.
|
||
