Sebuah Pengakuan

Seorang teman berkebangsaan Jerman pernah mengatakan kepada saya bahwa dalam beberapa kali kunjungannya ke Indonesia dia harus menahan nafas ketika berada ditengah lalu lintas jalan-jalan di Indonesia, tak terkecuali tentunya ibu kota tercinta Jakarta. Menurutnya, orang-orang Indonesia itu bisa ambil pekerjaan sampingan sebagai pemain sirkus.
Saya tentunya mempertanyakan 'statement' tersebut... Beliau seakan trauma untuk berkunjung ke negri kita tercinta.

'Why?' tanya saya.

'Wah, nggak lagi deh... saya bisa jantungan melihat bagaimana cara orang membawa kendaraan, baik yang roda 2 sampai roda banyak...' sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

'Memangnya kamu pernah nyetir waktu di Indonesia?'

'Cukup sekali dan that was it... Once was enough!' Katanya berapi-api. 'Coba ya bayangkan, bagaimana saya nggak jantungan melihat motor yang ditumpangi bisa memuat beban lebih dari yang seharusnya. Sebuah keluarga dengan 2 anak kecil, harus berhimpitan diatas motor yang kecil. Tetapi yang membuat saya tak akan bisa lupa, saya hampir menabrak motor dan keluarga tersebut karena out of nowhere, mereka muncul dengan kecepatan tinggi menyalip dari samping. I'm a good driver and I have always been... Namun, dengan kondisi seperti itu, saya yakin cepat atau lambat pasti saya bisa mengalami accident.'

'Hmmm... serem juga siiih... Saya udah berapa kali accident, sekali nabrak motor juga. Untung orangnya baik-baik aja... Tapi saya nggak kapok... Lah wong kejadian kayak begitu mah udah sering terjadi di Indonesia. Setahu saya, di Jerman orang kalo nyetir juga super fast... Bener nggak? Itu juga malah apa nggak serem?'

'Fast bukan berarti tidak ada aturan. Somehow kami sudah biasa mengemudikan kendaraan dengan cepat tanpa ada rasa takut, karena kami yakin pengemudi yang lain akan menaati peraturan dan memang begitu kenyataannya.' kata teman saya lagi berusaha menjelaskan.

Ya peraturan... Lagi-lagi sebuah teori... Entah kapan memang orang Indonesia akan bersahabat dengan peraturan, baik dalam membuat, menerapkan dan tentunya mematuhinya.
Akhir-akhir ini berita dari tanah air membuat saya semakin resah... Bertubi-tubi kecelakaan transportasi baik udara maupun laut terjadi. Salah siapa? Pilotnya? Nahkodanya? Perusahaannya? Mentrinya? atau penumpangnya? Siapa yang mau mengaku salah? Tentunya tidak ada yang berani... Ujung-ujungnya lempar kesalahan...

By the way... Berikut adalah pengakuan saya...

Beberapa hari yang lalu, saya ketinggalan pesawat tujuan Singapore... Alasannya standard! Kejebak macet! Perhitungan saya yang terlalu pede, ternyata meleset. Alhasil saya harus mencari pesawat alternatif dengan rute alternatif juga. Maka, dengan alasan mengirit ongkos saya memilih untuk terbang ke Batam.

Namun, setelah maskapai penerbangan favorite menolak saya dengan alasan penuh, saya panik... Beberapa nomer penerbangan alternatif juga sudah penuh dan satu-satunya yang tersisa jelas bukan favorite saya dan tentunya juga bukan favorite kebanyakan orang, apalagi setelah dua kali mengalami 'accident' dalam kurun waktu 2 bulan di awal tahun ini. However, it was come to my surprise... Ternyata tujuan Batam dengan maskapai horor ini pun penuh.
Akhirnya, karena melihat wajah saya super panik, Pak Porter yang sudah sedari awal mengikuti saya dari satu counter ke counter yang lain sambil mendorong troley yang sarat muatan oleh koper saya akhirnya bersuara...

'Mbak, daripada nggak ada kepastian, mendingan mbak saya kenalkan ke calo ticket. Lewat mereka bisa dipastikan 99% pasti dapet.' Katanya santai...

Saya terhenyak... Karena seumur-umur belum pernah saya berurusan dengan manusia yang berprofesi sebagai calo ini. Saya sudah punya bad image sendiri tentang calo. Calo apapun...
Tapi, lagi-lagi... saya gamang... Saya harus berangkat dan saya benci segala sesuatu yang tidak pasti... Apalagi disaat-saat seperti ini... Saya butuh kepastian...

Akhirnya, lewat Pak Porter, saya berhadapn dengan 2 laki-laki, The Calo. Saya tahu persis bahwa harga yang harus saya bayarkan pastinya akan jauh diatas harga resmi... Namun, yang lebih crucial disini adalah maskapai penerbangan mana yang bisa mereka dapat dan nampaknya mereka cukup gigih dalam meyakinkan saya... bahwa maskapai horor itulah yang paling mudah mereka dapatkan. Lewat perjanjian lisan, akhirnya saya mengiyakan tawaran mereka asalkan mereka bisa menjamin bahwa saya pasti berangkat. Entah apa yang ada di benak saya waktu itu... Tapi yang pasti saya nekat!

Setengah jam sebelum jadwal keberangkatan akhirnya dengan tergopoh-gopoh Mas Calo memanggil saya untuk segera membayar uang ticket yang berjumlah plus plus itu. Setelah uang diserahkan, saya hanya bisa berdiri dibelakangnya sambil melihat kesibukan yang luar biasa di counter ticket maskapai tersebut. Karena ternyata saya tidak sendirian. Beberapa penumpang lain juga menggunakan jasa calo.

Mohon diingat, saya hanya memiliki kurang dari 30 menit untuk bayar ticket, issued boarding pass dan checked in lugage dan berlari menuju gate. Tidak hanya semua serba express, tetapi juga tata cara yang biasanya berlaku juga tidak terjadi. Contohnya, koper saya sama sekali tidak ditimbang dan tidak masuk dalam data mereka. Bagaimana saya tahu? Tentu saja saya tahu... hampir selama proses kejadian saya terus mendampingi koper agar tidak raib... Koper saya hanya ditempeli stiker dengan nomer yang ditulis tangan. Lalu dua orang pria langsung menggeretnya ke 'belt' berjalan untuk langsung masuk ke pesawat. Juga diingat kembali bahwa saya bukanlah satu-satunya yang mengalami proses ini. Jadi, bisa dibayangkan berapa koper yang sengaja tidak ditimbang? Yang lebih mengejutkan lagi, salah seorang dari pria tersebut mengakui bahwa ini menyalahi peraturan, namun system komputer akan memperlambat proses maka jalan pintaslah yang digunakan.

Apakah saya salah? Pastinya deh! Selama perjalanan menuju Batam tak ada hentinya mulut saya terus mengucapkan doa... Walau akhirnya saya selamat sampai tujuan, toh saya tetap merasa bersalah... Bukan saja saya menggunakan jasa calo... Tetapi dengan jasa calo, peraturan dan prosedur dikesampingkan demi uang tanpa memprioritaskan keselamatan penumpang. Para calo ini sudah mengenal istilahnya 'orang dalam' yang membantu mereka dalam beroperasi. Tentunya dengan diiming-imingi pembagian jatah dari calo tersebut. Kalau ada demand tentunya ada supply. Karena demandnya pun semakin subur... tak ayal praktek ini akan terus terjadi. Bayangkan ini hanyalah sekelumit cerita... The whole process??? I don't know... Saya sudah serasa badut dalam sirkus yang tengah memegang bahan peledak...

Itulah pengakuan saya....

Labels: ,



Posted by Fortuna at 1:59 AM ||


Behind The Stage

Fortuna, Singapore
a student, a fashion marketer a.k.a fashion slave, and a proud mother
of an adorable daughter.



Latest Parade

  • Singapore's Sky
  • Parklane Yang Menghibur
  • 'AA'! Help!
  • Membayar Hutang
  • Perusahaan Keluarga
  • Wierdo Wierdo on The Wall
  • Suka Duka Pejalan Kaki
  • Happy Easter
  • Yoohoo!
  • Hiiiiaaaaatttttt....Tus dulu yaa...

  • Portfolios

  • November 2005
  • December 2005
  • January 2006
  • February 2006
  • March 2006
  • April 2006
  • May 2006
  • September 2006
  • October 2006
  • February 2007

  • Front Row

  • Arief - Singapore
  • Bunda Inong - Singapore
  • Cyan - Singapore
  • Hany S - Singapore
  • Loucee - United Kingdom
  • Monica W - Indonesia
  • Putri S - Indonesia
  • Triesti - Netherland
  • Windede - Indonesia

  • Peek Me!

  • Amy Woriwun - Indonesia
  • Atta - Indonesia
  • Dapur Bunda
  • DesigNani - Indonesia
  • Eliza's Kitchen
  • Pei^_^ - USA
  • Fitri - USA
  • 'Ka - USA
  • Kere Kemplu - Indonesia
  • Maknyak - Canada
  • Meiy - Indonesia
  • Modjo - Netherland
  • Nadia - Indonesia
  • Ophi - Germany
  • Principessa - Aussie
  • Rita - Indonesia
  • Shendy - Indonesia

  • Little Indulgence

  • DIESEL
  • Fashion Week
  • Flip Flop Sandal
  • Hint Fashion Magazine
  • MAGIC Show
  • Messy Muse
  • My Fashion Life
  • Style Bytes
  • The Fashion Spot
  • Woman's Wear Daily Magazine
  • Worth Global Style Network

  • Name :
    Web URL :
    Message :
    smileys


    Credits

  • Blogskin: LOUCEE.COM
  • Blogtool: Blogger
  • Shoutbox: Oggix




  • Lilypie Baby PicLilypie Baby Ticker