![]() |
|||
|
Friday, April 28, 2006
Suka Duka Pejalan Kaki
Disini, lampu merah, kuning dan hijau berfungsi dan ditaati sebagaimana mestinya oleh pengguna jalan, baik yang berkendara maupun bagi pejalan kaki.Zebra Cross yang hitam putih bukanlah untuk hiasan semata seperti di kampung halaman. Guna garis hitam putih benar-benar untuk pejalan kaki menyebrang. Kadang, sampai sekarang, saya masih celingak celinguk dulu sebelum menapakan kaki di Zebra Cross ini. Padahal tanpa melakukan inipun, para pengendara disini dengan sopannya akan langsung berhenti dan mempersilahkan para pejalan kaki untuk melenggang dan melintas dengan maniez didepan mereka. Maklum, dimana saya berasal, seringkali pejalan kaki dibuat misuh-misuh oleh para pengendara mobil, motor, bis terutama Metromini. Rasanya kok sudah berada ditempat yang tepat... Ini garis hitam putih kan??? Tetapi ketika kita berusaha melintas, boro-boro ada yang berhenti, seperti harus melawan menantang maut para pejalan kaki seperti berlomba-lomba dengan pengendara. Siapa duluan yang bisa melintas. Dia yang menang! Bahkan untuk beberapa anak muda, melintas di jalanan yang ramai sudah seperti ajang Fear Factor, bisa sampai di sebrang sana dengan selamat rasanya seperti sebuah prestasi. Keberadaan Zebra Cross di kampung halaman sudah seperti hikayat masa lalu yang tinggal nama... Bertahun-tahun dengan situasi seperti itu, sudah seperti tertanam diotak, dan ada saja rasa deg-deg plas ketika harus menyebrang jalan dimana saja, di negara manapun saya berada. Udah jadi bawaan kali yee? Minggu lalu, dalam keadaan terburu-buru, saya harus segera sampai dirumah untuk mempersiapkan kuliah di sore hari. Di suatu persimpangan samping Plaza Singapura, saya sudah menanti kendaraan yang melintas dengan tidak sabar... Siang itu, selain memang sinar matahari sangat terik, persimpangan tersebut juga ramai... Sejumlah pekerja kantor, anak sekolah dan beberapa turis tumplek- plek di mulut jalan, menanti dengan sabar sampai lampu pejalan kaki berubah hijau... Tapi, saya, sudah nggak sabar... akhirnya setelah kendaraan yang berbelok habis dan tidak ada lagi yang melintas... saya langsung melenggang dengan pede-nya... Ternyata saya nggak sendirian… mungkin ada sekitar 5 atau 6 orang lain lagi yang ikut melintas... Namun, baru juga sampai diujung jalan... Tau-tau... Ada sebuah tangan yang langsung memegang lengan dan menggeret saya... Saya tengok... ASTAGA!!! Polisi!!! Perempuan dan INDIAAAA... Saya liat... bukan hanya saya sendiri... 5 atau 6 orang yang menyebrang bersama saya juga sudah berkumpul dengan muka H2C (Harap-Harap Cemas). Maklum... Negara ini terkenal gemar mengumpulkan duit dengan memberikan denda untuk pelanggaran-pelanggaran apapun. Setelah kami dikumpulkan... Saya sempat berpikir... Wah! Jangan-jangan disuruh push up niiih... Panas! Nggak kuat ah! Polisi wanita itu berdiri didepan kami semua dengan sebuah buku catatan kecil di tangan kiri... "Do you know what's the color of the lights just now??"Tanyanya dengan suara lantang. Dan seperti paduan suara dadakan... kami semua menjawab dengan serempak… "Reeeeeeeedddddd...." Layaknya anak TK "Very gooooodd" Jawab si mbak polisi sambil tersenyum-senyum Selain saya ada, business man dengan dasi dan tas lap top nya, anak sekolah berseragam dan anak kuliahan, wanita kantoran bersama gerombolan rumpinya dan juga seorang bule dengan sneakers, celana super pendek, nampaknya sedang jogging (siang bolong gitu looch???) Setelah si polisi wanita mencatat data kami satu persatu... "Each one of you will receive the fine statement later by mail and pay $20 for this... Have a good day..." Good day? Huh! There goes my good meal for that day... ![]() |
Fortuna, Singaporea student, a fashion marketer a.k.a fashion slave, and a proud mother of an adorable daughter.
|
||
