![]() |
|||
|
Wednesday, January 11, 2006
3 Edan Years
Tadi malam, seorang teman minta bantuan untuk dicarikan roommate baru karena teman serumahnya akan pulang ke negara asal for good. Saya sendiri bingung, karena teman saya ini terkenal sangat picky dalam banyak hal, strict dalam aturan rumah dan sangat cerewet untuk soal kebersihan.*sigh* Salut juga buat roommate terdahulunya. Tahan banting! Two thumbs up dan tambah dua jari jempol kaki up... Bagi yang sudah mengalami... memang susah-susah gampang untuk mencari seorang teman yang bisa diajak tinggal satu atap. Kita bisa memiliki seribu orang teman... Tetapi, hanya beberapa gelintir yang bisa memenuhi kriteria jadi teman yang cucok untuk diajak tinggal bersama, kumpul bocah tapi bukan kumpul bufallo. Coba deh, contoh sederhana saja. Misalnya si Tini, karena punya taste yang okeh maka dia bisa diajak untuk menjadi teman shopping kesana kemari, jago nawar di pasar dan ngobrol apapun nyambung. Pokoknya asik! Pulang shopping sama si Tini pasti dijamin puas hati dan dompet. Tetapi apakah Tini yang jago shopping juga jago bersih-bersih rumah? Bisa ontime bayar bill telpon? Bisa jadi Tini nggak bisa masak tapi hobinya ngabisin makanan dalam lemari es... Atau ternyata Tini kalau tidur ngorok... Worst come to worst punya penyakit yang kita nggak pernah duga... sampai Tini benar-benar tinggal satu atap dengan kita... baru deh ketawan semuanya mengenai Tini. 10 tahun yang lalu (kira-kira), saya rasakan betapa sulitnya menemui teman yang ok untuk dijadikan teman sekamar. Tahun pertama kuliah, saya tidak diperbolehkan memilih. Teman kamar sudah di-assigned langsung oleh RA (resident advisor). Jadi ya harus terima-terima aja seaneh apapun roommate kita ternyata. Roommate di tahun pertama adalah cewek asal Palm Springs, California. Manis, big eyes, brown curly hair dan badan yang cukup berisi, gempal kayak empal. Paruh semester pertama kami lewati dengan baik... Adalah ketidak cocokan sedikit... Tetapi kami berdua berhasil melewati dengan baik. Biasanya ketidak cocokan kami selesaikan dengan diskusi kecil dan mencoba untuk dikompromikan... Sampai usai liburan musim dingin, sekembalinya mudik dari California, ternyata roommate punya 'gandengan', cowok cakep dari asrama sebelah. Awalnya, saya seneng-seneng aja... kadang si cowok berkunjung ke kamar kami, nonton TV bareng, order pizza bareng, timpuk-timpukan bantal... lucu lah, suasana jadi ramai... apalagi buat saya yang nonton... Tapi setelah lewat dari 2 minggu, si pria ini jadi lebih sering bertandang dan tidur di kamar kami yang super mungil. Laah... udah kamarnya kecil... nggak pake pembatas pula... Sering saya merasa SANGAT terganggu dengan 'aktivitas extra' yang mereka lakukan di tengah malam... kadang sampai pagi... Selain saya jadi shock, akibat lainnya saya jadi sering kurang tidur dan masuk kelas dengan lingkaran hitam di mata. Kompromi tidak menghasilkan apa-apa. Frekuensi 'menginap' malah semakin intense dan saya sudah terjangkit insomnia akut! Request saya untuk minta ganti roommate pun ditolak oleh RA, dengan alasan... tanggung! liburan semester sudah dekat... saya diperbolehkan untuk mencari roommate baru ketika pergantian semester. Semester akhirnya berkahir dan saya langsung menjatuhkan pilihan ke seorang cewek India yang memang lahir dan besar di America. Layaknya seperti mencari calon suami, saya menyelidiki latar belakang keluarga dan teman-temannya. Bibit, bebet, bobot, babat, bebot... Ternyata tidak ada masalah... Ayahnya juga seorang dosen yang mengajar di campus kami juga. Selain cantik kayak bintang pelem bollywood, teman saya ini juga cerdas cendikia. Hobinya selain belajar juga menari tradisional, sama seperti saya... Pokoknya nggak salah pilih deh kali ini. 6 bulan hampir berlalu, si Indihe Manise masih setia menjadi roommate yang baik dan manis... sampai suatu saat... teman: eh! gue liat temen loe berdiri di tengah jalan (masih di area campus), pake kerudung merah, berdiri mematung kayak lagi bengong gitu... kenapa tu anak? saya: uh? wah nggak tau... lagi nunggu orang kali? teman: bisa jadi... tapi pandangan matanya aneh banget... i think you better check... jangan-jangan dia kesambet setan campus lagi...?! saya: setan bule nggak hobi nyambet lagiii... udah ah... jangan suka mikir yang enggak-enggak... Was I in denial? Maybe! Karena beberapa saat setelah itu, saya memang sering menemukan si Indihe menangis atau bengong di kamar. Saya selalu mengira ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Family problem? Atau baru putus cintakah? Usut punya usut, selidik dan diselidiki lagi... Akhirnya Nona Indihe mengaku, selama ini seharusnya dia mengkonsumsi obat untuk penyakitnya... ZCHIZOPHRENIA!!! Haaaa??? Dan saya selama itu tidak sadar??? Padahal jurusan yang saya ambil adalah Pyschology. Teman saya ini merasa malu jika ketawan akan penyakitnya. Walau saya sudah membantu dengan mengingatkannya untuk minum obat, penyakit yang dideritanya tidak kunjung membaik, akhirnya Nona Indihe harus dirumahkan... atas kesepakatan antara saya dan orangtuanya saya kembalikan Miss. Indihe ke tangan yang lebih bisa bertanggung jawab dan lebih pakar... Awal setelah dirumahkan, sekali, dua kali, Indihe masih menelpon saya, menangis dan meminta maaf karena tidak berterus terang akan penyakitnya... tetapi setelah itu semakin sering dia menelpon, minta bantuan saya untuk mengusir suara-suara yang kerap mengganggunya. Halusinasi semakin parah... Bahkan salah satu bisikan mengatakan, bahwa saya adalah orang yang jahat dan berniat untuk membunuhnya... Ya oliiiiii... Sekali waktu, Miss. Indihe kabur dari rumah membawa mobil orangtuanya. Hal ini saya ketahui, karena ibu nya menelpon sambil setengah menangis mencari keberadaan sang anak... Sempat dikatakan juga, berhari-hari, nama saya selalu disebut bahkan ditulis dalam lembaran kertas... Dan... baru saja saya tutup telpon... Dering telpon kembali berbunyi... Miss.Indihe di ujung sana... ingin ke kampus untuk menemui saya... Waaak! It was time for me to panic!!! Saya langsung kabur ke kamar teman, minta perlindungan... RA kami kontak dan security malam itu diperketat. Ketika pagi menjelang... RA mengabari, Miss Indihe ditemukan di airport sedang memaksa petugas counter untuk diberikan ticket ke Chicago, gratis! Mau nemuin pacarnya disana... Miss. Indihe sekarang sudah masuk rumah sakit untuk dirawat... Duuuuhh aduuuhhh... Happy Ending? Belum! Perjalanan saya belum selesai.... Tahun ke-3... Saya keluar dari asrama dan memilih untuk tinggal di apartment bersama seorang teman asal Indonesia. Haaaa! Udahlah... kayaknya emang udah paling aman sama orang satu negara aja. Kalau ada apa-apa kan lebih enak ngomongnya... Lagi-lagi, saya tidak menyangka... teman baru ini ternyata mengidap penyakit yang nggak kalah seremnya. BIPOLAR DISORDER... It is a mood swing...
Begitulah nasib saya... Dalam satu minggu, teman saya bisa super happy, shopping spree melulu. Pulang ke rumah dengan berkantong-kantong hasil belanja. Yang saya bingung, ini duit ngalir kayak air terjun aja... Minggu berikutnya, dia nggak keluar dari kamar, mengurung diri bahkan sering saya dengar menangis. Awalnya saya masih bisa ngomong walau hanya dari balik pintu... menawarkan makan atau mengajaknya keluar... tetapi selalu saja ditolak... Sampai suatu saat, ketika masa depressi sedang kumat, teman saya tidak bersuara... sudah 2 hari... ketukan pintu dan sautan saya tidak dijawabnya... Hati saya sudah mulai kebat-kebit... ini pasti ada yang tidak beres terjadi didalam sana... Akhirnya, suatu siang dengan bantuan beberapa teman... Kami dobrak pintu kamarnya dan dalam ruang yang gelap, teman saya duduk di pinggir tempat tidur dengan wajah dan rambut yang kusut sambil memegang pisau... Ketika melihat kondisi nya... Saya sudah setengah mau menangis... Antara takut dan kasihan... Seorang teman berusaha untuk mengajaknya berbicara sementara yang satu lagi mengendap-endap dibelakang, siap untuk memegang kedua tangannya. Hanya butuh 5 menit untuk 'mengamankan' situasi... Malam itu juga, teman yang malang kami bawa ke rumah sakit, sebelum akhirnya pulang ke Indonesia untuk berada lebih dekat dengan keluarganya... Apa yang terjadi dengan saya? Shock pasti... 3 tahun kuliah... 3 orang roommate dengan 3 jenis permasalahan... Sekarang... dengan jurusan saya yang baru di bidang Fashion... orang aneh juga ternyata nggak kalah banyak bahkan lebih banyak... tetapi masih bisa saya tolerir... I've seen and experienced worst than just some bitchy atittude... Ya nggak neeee'? ![]() |
Fortuna, Singaporea student, a fashion marketer a.k.a fashion slave, and a proud mother of an adorable daughter.
|
||
