![]() |
|||
|
Thursday, January 05, 2006
KBRI, Photo and Sleezy Place
Pagi-pagi sekali, saya sudah mandi, rapi jali dan siap pergi. Mau kemana neng? Ke KBRI... Kinclong amat? Hehehe! Maklum... Ini adalah kali pertama saya berkunjung ke Kedutaan Indonesia di negera nan mungil ini. Saya tidak mau terlihat lusuh di depan bapak dan ibu petugas di loket nanti. Walaupun tujuan saya simpel, ingin mengganti alamat di paspor supaya bisa dapat fiscal gratis. Bersama dengan seorang teman yang kebetulan juga harus mengurus paspornya yang expired, kami berdua naik taxi ke KBRI yang terletak disebuah kawasan perumahan elite dengan pepohonan yang hijau dan rindang. Pokoknya sangat asri lah. Suasananya, mengingatkan saya dengan jalan-jalan di daerah Menteng tempoe doeloe. Tenang dan sejuk. Teman saya mengatakan, agak susah kalau naik bus ke daerah sini, karena memang tidak bisa berhenti langsung di depan KBRI. Tapi harus jalan dan katanya agak jauh... (masa sih?) Sesampainya kami di pos security KBRI, terpampang segala macam sign di kaca loket yang buat saya sebenernya agak terlalu ribet untuk dibaca karena penempatannya yang tumpang tindih dan sangat tidak friendly untuk mata. Ada salah satu sign yang mencolok mata sebuah sign yang menyatakan peraturan penampilan dalam berkunjung ke KBRI tersebut. Tidak boleh pake sendal jepit, tidak boleh pake singlet, tidak boleh kucel, tidak boleh pake baju yang nggak sopan, tidak boleh nakal dan tidak boleh sombong (hehehe! 2 yang terakhir jelas ini ngarang berat!)... Tapi, kira-kira begitulah intinya. Di pos depan ini juga kami HARUS (tidak boleh tidak) meninggalkan sebuah ID untuk ditukarkan dengan visitor pass. Untung saya masih punya KTP Indonesia, karena teman saya ternyata bermasalah... tidak punya KTP atau SIM atau kartu lain yang ada photonya... Lalu saya lihat di papan dekat loket, jenis-jenis ID yang bisa ditinggalkan selain Photo ID adalah ATM dan kartu Frequent Flyer (tanpa photo). Temen saya jarang terbang... Lebih sering berenang. Lah wong kampuang nya tinggal nyebrang dikit juga sampai. Seharusnya dia punya kartu Frequent Swimmer ya? Jadi... alhasil, ditinggalkannyalah sebuah ATM. Untung nggak diminta ninggalin nomer PIN nya juga... 'Peraturan yang aneh!' pikir saya. Diruang ini juga, saya bersama beragam jenis manusia yang lain tumplek plek berbaur. Ada orang Indonesia pastinya, Singaporean maybe dan beberapa bule. Yang Indonesia, either dia bengong dan wondering around kayak setrikaan atau ngobrol ngalor ngidul dengan orang disampingnya. Sementara yang bule hanya berdiri mematung menghadap loket dengan pandangan wajah yang Harap-Harap Cemas menunggu dipanggil. Saya perhatikan juga, loket-loket ini tidak dilengkapi dengan alat pengeras suara sehingga ketika si petugas harus memanggil, mereka harus menempatkan kepala di celah lubang antara kaca loket dan setengah berteriak memanggil nama orang yang dimaksud. Padahal, suasana di ruang tunggu sudah seperti pasar tradisional (minus suara ayam dan kambing). Setelah mengambil nomer, kami berdua sempat bengong karena nggak tau langkah selanjutnya harus apa... a. menunggu? b. bergosip? c. berdemo? atau d. berdoa? (pilih yang paling sesuai dengan mood dan situasi) Sementara, tidak ada petunjuk tata cara atau step by step yang pasti. Kami hanya memperhatikan orang-orang yang lalu lalang dan melihat apa saja yang mereka lakukan. Ooooh! Ternyata bisa langsung ambil form ke salah satu (unidentified) loket. Kami langsung mengikuti cara tersebut. Setelah form kami isi... Kami kembali menunggu sampai nomer antrean muncul di screen... Akhirnya sambil menunggu, saya memilih untuk wondering around menjelajahi semua 'hiasan' dinding di ruangan tersebut, menilik apa yang bisa saya tilik (lagi-lagi bahasa yang aneh). Kali aja saya menemukan sesuatu yang dapat menstimulasi otak. Yupe! Dan saya menemukan sebuah papan besar di samping pintu menuju ruang petugas yang bunyinya begini:
THE IMMIGRATION OFFICERS MUST BE IN PROPER ATTIRE. UNKEMPT HAIR AND SLIPPERS ARE NOT ALLOWED. 'Ih! Giliran soal penampilan, peraturan nya segede-gede gaban! Padahal peraturan yang lebih penting malah hanya ditampilkan di kertas ukuran A4 dan diletakan di kaca loket atau kadang di tembok sebelah sana dan sini, di pilar dengan peletakan yang berantakan pula.' kembali saya hanya membatin Beginilah kira-kira suasana mengantri di kantor KBRI, pagi itu Urusan saya beres! Paspor bisa diambil 3 hari lagi. Tapi ternyata eh ternyata, untuk urusan teman, perjalanan tidak hanya sampai di situ. Urusan membuat paspor baru harus menyerahkan photo dan untuk pembuatan photo tersebut harus dilakukan di lokasi yang berbeda dan agak jauh dari KBRI tepatnya di gedung Orchard Tower. Some sleezy area to be honest. Saya sendiri memilih untuk tidak kesana kalau nggak perlu-perlu amat. Tapi hari ini demi teman... apbolbut (red: apa boleh buat). Sampai di Orchard Tower, kami berdua bingung, karena tidak ada petunjuk yang pasti. Papan directory pun juga tidak membantu. Apalagi photo studio ini baru saja pindah dari KBRI ke gedung tersebut. Asumsi kami, namanya tidak akan tercantum di papan directory manapun di gedung itu. Apalagi melihat papan directory yang nggak beraturan ini malah bikin tambah pusing. Uuuh! Kenapa pake acara pindah sih? Nggak efficient banget! Akhirnya setelah naik turun tangga dan lift, nyasar sana sini sampai ke parkiran segala, kami berhasil menemukan ruang photo studio di lantai lima, di suatu lorong yang agak spooky dan tersembunyi (lebih mirip puskesmas...) dengan ruang photo studio yang sebenarnya agak kurang meyakinkan. Hanya terdiri dari satu ruangan yang luasnya kira-kira 5 x 12 meter. Tapi ya sudahlah... kami sudah sampai disini. *cekrek cekrek* Coba liat deh... Ini niih lokasi dan studio photo nyempil nan spooky... Lorong yang sepi, sign yang cuma seumprit... Tidak ada hubungannya dengan ngurus paspor dan KBRI. Hanya pemberitahuan bahwa Gedung Orchard Tower itu memang terkenal dengan banyaknya 'ayam' berkeliaran (bukan ayam dengan arti penakut seperti yang Mr.Bule maksud). Lokasi gedung tersebut memang di ujung sebuah jalan tetapi bukan di main Orchard Road, deket Far East, Hard Rock Cafe. Tenant yang paling obvious disini adalah tempat-tempat panti 'pijat', tempat pembuatan tatoo, beberapa restaurant dan pubs tentunya. Dan salah satu pojokan yang berhasil saya capture adalah sebuah pub bernama Crazy Horse dengan poster painting di temboknya, yang mengingatkan saya akan gambar-gambar perempuan bohai binti bahenol yang biasanya menghiasi badan belakang truk-truk di Indonesia dan biasanya juga ada embel-embel tulisan seperti... 'Jandaku' atau 'Bersama Doa Ibu'... *sigh* tempat yang aneh... ![]() ![]() |
Fortuna, Singaporea student, a fashion marketer a.k.a fashion slave, and a proud mother of an adorable daughter.
|
||
