![]() |
|||
|
Tuesday, December 06, 2005
Divesity in One Face
![]() Beginilah nasib orang yang memiliki muka abstrak. Kemana perginya, sangat jarang ada yang bisa menebak dari mana asal usulnya. Teman sebangsa dan setanah air aja biasanya penasaran untuk bertanya, dari daerah asal mana atau ada titisan dari bangsa lainkah? Sewaktu kecil saya dibilang anak India. Emang siiih... jika dilihat dari photo masa kecil, muka saya memang hanya terdiri dari dua bola mata yang besar yang terlalu mendominasi tata letak dimuka ini malah. Sementara kulit yang dianugerahkan berwarna kelam. Ada salah seorang tante yang memang selalu usil banget, beliau sering mengatakan bahwa saya adalah anak yang tertukar di rumah sakit waktu lahir. Haaaa? Sedih banget! Namanya juga anak kecil saya gampang saja dikelabui. Dan julukan anak India akhirnya lekat dengan saya selama belasan tahun lamanya. (Atau masih ya?) Ketika masuk ke jenjang SMP dan SMA, teman-teman menjuluki saya si Arab. Entah dilihat dari mana...? muka ini mulai plin plan, pikir saya. Problem yang paling dirasakan adalah ketika harus mengenakan busana kebaya atau pakaian daerah lainnya. Metamorfosa wajah menjadi wanita prijaji Jawa yang seharusnya muncul, ternyata tidak berlaku bagi saya. Analisa sederhana saya karena struktur konde dan struktur wajah tidak matching atau kurang balance. Terjadi gap dan culture shock antara keduanya. Belum lagi kalau ada acara keluarga yang mengharuskan saya untuk dipoles habis-habisan. Seperti acara kawinan. Biasanya tukang rias jaman dulu kan nggak pernah pake mikir lagi. Pokoknya standard make up begitu... pukul rata dan massal ya begitulah semua muka jadinya. Kena giliran saya, biasanya kesalahan mendasar sudah terletak dari warna foundation dan bedak. Kulit muka saya yang gelap ternyata kurang mewakili kebanyakan perempuan Indonesia lain untuk perusahaan bedak memproduksi warna yang sesuai. Sehingga terjadilah perubahan warna kulit yang sangat drastis dan tidak alami. Wajah seperti pemain Kabuki! In my case Gebuki! Kesalahan lain yang mereka lakukan juga adalah memberikan countour rias yang ajaib dimuka saya. Jika wanita lain menjadi lebih cantik, kepada wajah abstrak hal ini mengakibatkan saya lebih cocok jadi Rue Paul mejeng di lampu merah Cawang. Those days are gone though. Sadar bahwa wanita dimuka bumi ini memang memiliki struktur wajah yang beragam dan kebutuhan yang berbeda-beda, perusahaan cosmetic menjadi lebih peka dan mengerti akan hal ini. Apalagi sekarang sedang dikampanyekan akan kecantikan yang lebih alami. I found my foundation, I found my bedak meskipun sangat jarang sekali digunakan. Mungkin saya beli hanya karena dendam pelampiasan bahwa akhirnya ada yang menemukan pantone warna kulit kelam saya ini. I love Bobbie Brown (Not the singer!) Sayangnya, perusahaan cosmetic Indonesia belum se-advance itu. Terus terang, saya masih kesulitan mndapatkan warna yang sesuai di brand cosmetic local. Tante Tilaar? Atau Mbak VIVA? Ada tanggapan? Kembali ke tebak-tebakan asal usul... Di Indonesia, orang yang menebak asal usul saya biasanya dimulai dari daerah Indonesia Timur. Saya bisa lulus menjadi Nyong Ambon atau kadang Flores, Timor Timur yang sekarang kalo kesana harus pake fiscal (damn!) bahkan sampai ke Aceh. Masih lintasan wajah Nusantara laah. Lain lagi ceritanya waktu saya berada di US. Paling tidak, wajah saya tiba-tiba menjadi lebih international... Tebakan orang sudah mulai ngawur. Yaa... karena mereka nggak tau basically dimana Indonesia. Mereka taunya Asia itu berwajah Luci Liu, Michelle Yeow. Tebakan orang America nya sendiri bahwa saya orang Indiannnn (pake N) atau Chicano... Lain lagi ketika saya bergabung di komunitas International Students. Banyak yang mengira saya berasal dari Nepal, Bangladesh atau Srilanka... Waaak! Suatu waktu di rumah Carrie, teman sewaktu High School di US. Ini kali pertama saya hang-out bareng teman-teman sekolah. "Are you from Pakistan?" tanya Carrie "No... She is from Indonesia..." Julie, my American sister menjawab dengan bangga. Bangga karena Julie ini sudah lebih tau dimana letak Indonesia. I taught her. "You look like a Hawaiian to me" balas teman yang lain Sementara saya cuma senyum-senyum aja. Males juga ditanggapin. Mau dijelasin pake peta dunia juga pasti akan ribet jadinya. Tiba-tiba, Chauncey, Carrie's older brother muncul dan bergabung bersama kami... Ketika saya diperkenalkan dengan Chauncy... Sudah ketebak, pasti ni orang juga mau tanya... Dengan wajahnya yang serius... "Are you JAPANESE???" Yeee... Mabok ni orang! ![]() |
Fortuna, Singaporea student, a fashion marketer a.k.a fashion slave, and a proud mother of an adorable daughter.
|
||
