![]() |
|||
|
Wednesday, January 25, 2006
Selamat Datang!!!
Siapa suruh datang Jakarta?Siapa suruh datang Jakarta? Tanpa harus disuruh, senyum saya terus mengembang berhari-hari ketika mengetahui bahwa saya akan pulang ke Jakarta. Bagaimana tidak? Bertemu lagi dengan keluarga, teman dan tentunya anak tercinta. 'Melupakan tugas dan lagi-lagi tugas kuliah untuk sesaat tentunya bisa dimaklumi ya?' Begitu tanya saya dalam hati untuk menenangkan rasa bersalah karena meninggalkan tugas-tugas dan kewajiban saya sebagai seoarang pelajar. "Waaahhh asik dong bakal sering nongkrong di PS!" kata seorang teman "Hihihi! Cukup menggoda juga tuuh. Apalagi , memang sudah lama nggak absen disana." Timpal saya yang memang dulu punya gawe ngabsen di mall-mall Jakarta… Mungkin kalau ada member card Frequent Dropper/Visitor yang dikeluarkan mall-mall tersebut saya sudah punya puluhan ribu point yang bisa saya gunakan untuk belanja gratis atau parkir gratis seumur hidup mungkin? Dream On! Anyway... dengan gegap gempita saya menyusun segudang rencana untuk lawatan lima setengah hari di Jakarta nanti. Makan dimana ? Disini, disitu, disinu. Ketemu siapa saja? si ini, si itu, si anu. Belanja apa? ini, itu dan inu. Lalu, berkunjung kemana saja? Kesitu, kesini, kesinu. Pokoknya scenario sudah terbayang semuanya, segala sesuatu yang sudah lama saya tidak lakukan pastinya akan mengasyikan… "Ah Jakarta masih macet! Pokoknya sebaiknya dihindari yang namanya keluar rumah." Begitu kata ibu saya di telpon dengan nada misuh-misuh. "Ya namanya juga Jakarta, kalau nggak macet bukan Jakarta dong Mam?!" Jawab saya tetap dengan nada riang. Ya memang, detak jantung kota ini terlihat dari tingginya aktivitas kendaraan dan lalu lintas yang lalu lalang. Walau sesungguhnya hati ini mendambakan jalanan yang bebas macet, tapi jika jalanan Jakarta tiba-tiba jadi sepi, rasa hati malah curiga karena itu adalah suatu pertanda aneh buat kita yang sudah biasa tinggal di Jakarta dan mendapatkan pemandangan indah rentetan mobil di jalan-jalan raya, asap knalpot yang hitam, gilanya metromini menelusuri jalan raya dan cara ugal-ugalan para pengendara sepeda motor atau bahkan kendaraan milik Tuhan sekalipun, si mister bajaj yang suka nggak pake mikir kalau mau belok kiri atau kanan... Dan memang hanya Tuhan yang tau kapan dia mau belok...Pemandangan seperti diatas memang sudah lama sekali tak pernah saya rasakan. Singapore negara yang sangat amat teratur dan transportasi umum juga sangat memadai. Jadi nggak perlu punya mobil pribadi. Kemana-mana tinggal naik MRT, bis atau taxi sebagai alternatifnya. Dan hal yang menjadi favorite saya adalah jalan kaki. Ke kampus, grocery, makan, dll... semuanya bisa dicapai dengan berjalan kaki saja. Selain murah juga sehat. Hanya memang, dengan kondisi Singapore yang sering diguyur hujan, saya jadi lebih sering memilih taxi untuk bepergian. Maklum, karena saya sudah berkali-kali terpeleset ketika tengah berjalan kaki atau menyebrang jalanan. Soal sakit dan kaki jadi biru-biru sudah biasa... tapi siapa yang bisa mengobati rasa malu??? Muka kan nggak bisa saya copot dan dikantongi untuk sementara? Anyway... Walau pesawat yang saya tumpangi mengalami keterlambatan selama 1 jam, padahal semua penumpang sudah didalam kabin dengan suhu kabin seperti tungku pemanas, akirnya... mendaratlah kami semua di Jakarta dengan selamat.Ketika mengantri untuk mendapatkan cap dari petugas imigrasi, saya mendapatkan seorang mas-mas pipi tembem dengan kumis semi tebal dan begini tanyanya... Petugas: "Liburan sekolah atau cuti kerja mbak?" dengan nada genit Saya: "Mmmm... nggak dua-duanya pak... lagi pingin pulang aja..." jawab saya dengan santai Petugas: "Emang rumahnya dimana?" sambil membolak balik halaman paspor milik saya Saya: ... (saya hanya diam dan tersenyum masam!) Keluar dari antrian imgrasi yang kayak ngatri sembako, saya mencari troley untuk mengangkut koper... "Eh!!! Awas mbak ada yang jatoooh tuuh...!" Lagi-lagi mulut iseng petugas di bandara yang lagi kongkow-kongkow di dekat troley station... Ahhh... Sudah lama memang saya tidak mendengar ocehan-ocehan seperti ini. Belum sekalipun saya mendapatkan lontaran komentar bernada seperti ini selama saya di rantauan. Akhirnya, karena menumpuknya jumlah penjemput di pintu keluar akhirnya kami memilih untuk mencari meeting point yang less crowded... "Taxi mbak?" tanya seorang pria setengah baya yang menghampiri saya. Mungkin ada sekitar 4 orang yang menawarkan jasa taxi, taxi gelap. Karena mereka tidak memakai seragam supir taxi yang biasanya. Lalu ada satu orang pria jangkung menghampiri saya lagi... "Mbak taxinya?" tawarnya sambil tersenyum "Nggak pak makasih..." jawab saya sambil menggeleng... "Kenapa mbak???"tiba-tiba si mas jangkung bertanya lagi... Saya hanya memandangi wajah pria tersebut dengan heran... Ngapain juga dia nanya lagi? Lah saya memang nggak mau... Apakah harus memberikan alasan... Lalu saya ngeloyor pergi... Hari-hari di Jakarta diwarnai dengan hujan dan macet. Seperti hari Senin lalu... Setelah menjemput Rani dari sekolahnya, kami sempat meluangkan waktu di CITOS, salah satu tempat yang dulu juga sering saya kunjungi. Tidak lama hanya 1 jam karena masih harus menuju ke daerah Pusat dan ada janji dengan seorang teman. Baru sampai perempatan Prapanca dan Jeruk Purut, hujan deras disertai angin yang super kencang terjadi. Wah! Udah lama saya nggak lihat pemandangan seperti ini. Pikiran saya hanya satu... Banjir dan macet! Mati deh! Mana jarak yang ditempuh masih panjang... Namun karena jarak pandang semakin pendek, mobil tidak bisa melaju dengan cepat... Yang saya lihat hanya ranting pohon yang berterbangan... Pemandangan ini mengingatkan saya pada hujan badai di tahun 2004 awal... Hujan es dan tumbangnya pohon-pohon besar di sepanjang jalan.Segera saya nyalakan radio untuk mencari informasi seputar lalu lintas... Tak terasa sudah 1,5 jam saya di jalanan. Rasanya lelah... hanya bisa duduk dan duduk. Kaki sudah mulai pegal dan linu-linu... Rasanya ingin mengumpat! Tapi ada anak... Muka saya memang sudah tidak bisa dibohongi lagi... Saya sedang kesal sekesal-kesalnya! Bete seada-adanya! Bagaimana tidak? Saya punya segudang rencana dan kini rencana itu hanya bisa saya telan! Dan semua ini karena hujan! Eh bukan! Bukan hanya karena hujan! Karena kebanyakan mobil di Jakarta yang buat macet! Karena saluran pembuangan airnya nggak beres! Karena banyak sampah! Karena nggak disiplin! Karena pemda nya nggak becuussss! Huaaahhhhh! 3 jam sudah saya lewati dengan mengumpat, dalam hati tentunya (lama bener!) Isi berita di koran esok harinya: 1. Billboard segede gaban jatuh menimpa 2 mobil dan melintang di rel kereta api di pejompongan. Tidak ada korban nyawa. Korban kaget pastinya! 2. Sebuah antene pemancar salah satu TV swasta yang sedang dibangun, tumbang dan menimpa rumah penduduk. 3 orang tewas. Siapa suruh datang Jakarta? Siapa suruh datang Jakarta? *Hiks!!!* ![]() |
Fortuna, Singaporea student, a fashion marketer a.k.a fashion slave, and a proud mother of an adorable daughter.
|
||
