Ketika Sang Duta Menipu

"Kami pergi untuk menuntut ilmu. Nun jauh dinegara orang. Bukan hanya raga yang kami bawa, tetapi akar budaya dan nama bangsapun turut serta. Sebut kami DUTA."- by akika diriku*


2 koper besar terlihat penuh sesak dengan segala benda-benda yang ingin saya bawa serta untuk keperluan saya selama entah berapa tahun lamanya.
Ya, ini kali pertama saya pergi keluar negri bukan untuk jadi turis. Tapi jadi seorang pelajar.

Dilihat dari sudut pandang cost dan efficiency, letak geografis, dsb... rasanya tidak heran melihat apa saja yang ada didalam suitcase itu. Apalagi, saya tidak bisa pulang pergi seenaknya dengan perjalanan selama belasan jam didalam pesawat. Bisa tua dijalan.

Coba kita liat, ada sambel, kecap manis, indomie, krupuk siap goreng, royco... (astaga... kayaknya bisa buka toko kelontong nih?)... baju ini, baju itu, batik, wayang dan... baju nari beberapa set. Yupe! Saya si penari memang selalu siap dengan kostum tarian ini. In case ada panggilan manggung disuatu tempat untuk menari atau hanya sekedar menjadi pajangan.
Lagipula, berada disebuah bagian negara yang mungkin sebagian besar penduduknya tidak atau bahkan belum pernah mendengar negara yang rakyatnya senang beranak-pinak(fact), ramah(depends), tanahnya kaya gemah ripah loh jinawi (theory) dan aman (kekeuh...) saya, yang tidak pandai berkoar-koar tentunya punya cara lain untuk bercerita mengenai negri tercinta ini.

Menari! Tarian dari segala penjuru Nusantara. Beberapa memang sudah saya pelajari sedari kecil. Tapi, beberapa tarian lain memang sengaja saya pelajari secara express untuk menambah tabungan tarian yang bisa saya pertunjukan. Alhasil, karena express, hasilnya pun sesuai dengan jam latihan saya yang hanya belasan jam.
Tarian A saya tambal sulam, tarian B menjadi kreasi sendiri, dst. Sering kali mereka bertanya mengenai makna tarian tersebut. Ini udah pasti saya karang. Bayangkan, ada satu tarian yang sebenernya makan waktu 3 jam, saya potong jadi 5 menit karena keterbatasan waktu. Ceritanya sangat ancient dan butuh 1 halaman untuk mengartikannya. Apa boleh buat karena memang jadinya juga cuma 5 menit, begitu pula dengan deskripsi yang saya berikan. Totally NGARANG!

Ada lagi cerita seorang sahabat. Beliau sama sekali tidak punya keahlian dibidang seni tari. Tapi karena sudah didaulat untuk mempertunjukan sesuatu, apa boleh buat, sekotak isi beberapa jenis wayang golek diterbangkan dari kampung halaman untuk dipertunjukan. Pertunjukan special pastinya.
Lakonnya? Tentunya juga tidak pernah terpikirkan olehnya. Pokoknya yang penting nge-DALANG!
Dengan bergaya bak Dalang Ki Gendeng Sugendeng, teman kamipun mulai beraksi...

"Datanglah Budi dan teman-temannya... eeeeeee... mau kemana kamuuuu?"
terok tok tok (bunyi sebuah benda diketok)
"Hai Iwaaaann... jangan pergi dulu... AHAHAHA!" dengan suara yang sengaja diberatkan ala raksasa...

Sayang sekali saya tidak berada langsung untuk menyaksikan keahlian teman saya yang baru tergali saat itu juga. Namun, mungkin sebaiknya saya tidak berada disitu... Kalau ada, pasti saya sudah menjadi orang pertama yang peeengsan karena menahan tawaaaa... terok tok toook...

Lain jaman, lain cerita. Dulu, waktu NOKIA Siemens belum beken dan Indonesia belum merdeka-merdeka amat, ayah juga pernah berkesempatan menjadi seorang pelajar di sebuah negara asing.
Apalagi jaman dulu? CNN juga belum ada!!! Nggak ada yang tau lah dimana Indonesia. Sebagai seorang duta bangsa, ayah diminta untuk menari. Sayangnya kostum dan musiknya tidak terbawa. So, dengan mengandalkan alat telekomunikasi yang terbatas (mungkin malah baru tahap uji coba) ayah berusaha untuk meminta perangkat tersebut, langsung dari negeri asal.

Namun, ketika paket yang diharapkan tiba, kostum yang dikirimkan ternyata salah. Tidak sesuai sama sekali dengan tarian yang ayah akan bawakan. Ya kostumnya, ya musiknya. Nggak ada yang klop!

Ladies and gentlemen... may we present, Indonesian dance... by.... (applause and lighting on the stage)
Dan mulai menarilah sang ayah muda... Tarian Gatot Kaca (pendekar perang anak Bima, Pandawa) dengan kostum Hanoman (monyet sakti) dengan musik Keroncong.... (yang pasti bukan Sundari Sukotjo)....

WAHAHAHAHHAHAHAH! Ludruk pun lewaaaaaaattt...


Posted by Fortuna at 2:24 PM ||


Behind The Stage

Fortuna, Singapore
a student, a fashion marketer a.k.a fashion slave, and a proud mother
of an adorable daughter.



Latest Parade

  • Dog Sign
  • Hellooooo Gorgeous!
  • Monk Galiano
  • Back Then
  • Anak Nongkrong
  • WATTTAAAAAAAAAAA!!!!
  • Catatan Insomnia
  • Model (maaf..) Belekan!
  • What's That?
  • Dunia Fashion, Dunia Fantasi

  • Portfolios

  • November 2005
  • December 2005
  • January 2006
  • February 2006
  • March 2006
  • April 2006
  • May 2006
  • September 2006
  • October 2006
  • February 2007

  • Front Row

  • Arief - Singapore
  • Bunda Inong - Singapore
  • Cyan - Singapore
  • Hany S - Singapore
  • Loucee - United Kingdom
  • Monica W - Indonesia
  • Putri S - Indonesia
  • Triesti - Netherland
  • Windede - Indonesia

  • Peek Me!

  • Amy Woriwun - Indonesia
  • Atta - Indonesia
  • Dapur Bunda
  • DesigNani - Indonesia
  • Eliza's Kitchen
  • Pei^_^ - USA
  • Fitri - USA
  • 'Ka - USA
  • Kere Kemplu - Indonesia
  • Maknyak - Canada
  • Meiy - Indonesia
  • Modjo - Netherland
  • Nadia - Indonesia
  • Ophi - Germany
  • Principessa - Aussie
  • Rita - Indonesia
  • Shendy - Indonesia

  • Little Indulgence

  • DIESEL
  • Fashion Week
  • Flip Flop Sandal
  • Hint Fashion Magazine
  • MAGIC Show
  • Messy Muse
  • My Fashion Life
  • Style Bytes
  • The Fashion Spot
  • Woman's Wear Daily Magazine
  • Worth Global Style Network

  • Name :
    Web URL :
    Message :
    smileys


    Credits

  • Blogskin: LOUCEE.COM
  • Blogtool: Blogger
  • Shoutbox: Oggix




  • Lilypie Baby PicLilypie Baby Ticker