![]() |
|||
|
Thursday, February 23, 2006
Thaipusam
![]() Mungkin sekitar 2 minggu yang lalu, tepat didekat saya tinggal terjadi sebuah kehebohan. Bukaannn... bukan kerusuhan kok. Ini Singapore gitu looh. Mana ada kerusuhan? Hanya ketika sekumpulan orang Indonesia berkumpul, disitulah kerusuhan lebih mungkin akan terjadi. Beneran! Orang kita, kalau sudah ngumpul, suaranya udah ngalahin toa.Anyway, saya katakan heboh, karena memang saya lihat jalanan dipenuhi oleh manusia, penuh dekorasi dan bunyi-bunyian dari jam pagi-pagi sekali. Dan ini berlangsung selama 2 hari berturut-turut. That's right! Pagiiiiiiiiiiiiii sekali, dari jendela kamar, saya lihat kerumunan orang disepanjang jalan protokol untuk menonton atraksi dari segerombolan orang yang terus menerus muncul dan berjalan/convoy ke arah yang sama. Ada yang pake baju biasa saja dan ada juga yang seperti pakai costum carnaval. That's what I saw from the distance. Walaupun warna-warni, warna yang paling mencolok adalah kuning. Persis seperti warna salah satu partai berlambang pohon keramat di Indonesia. Mereka ini membuat keributan yang mengakibatkan saya terbangun di jam yang terlalu pagi buat saya... Astaga... Baru jam 5... Ini orang-orang ngapain sih? Saking penasaran, saya turun dari 'khayangan' lantai ke-7, nggak pake mandi. Cuma cuci muka dan sikat gigi. Hihihi! Penasaran euy! Ada apakah gerangan??? Menyelinap diantara manusia dan berusaha berdiri paling depan adalah hal yang mudah buat saya. Karena memang tubuh saya mungil... Handphone saya siapkan untuk membidik apa saja yang menurut saya menarik untuk dibidik dik! Pagi-pagi mau jadi wartawan. Wartawan bau iler... Hiiiiiii! Sesampainya ke posisi depan, saya terperangah... Mata saya tak bisa berkedip menatap beberapa orang yang berpakaian kuning-kuning, dengan atribut yang bisa dikatakan aneh. Dan yang benar-benar membuat saya merinding dan ngilu adalah pemandangan body piercing. Atribut aneh itu tidak saja diusung dengan tangan oleh satu orang, tetapi juga diTUSUKan ke badan. Yupe! Seperti nonton debus. Ada yang ditusukan tembus dari pipi ke pipi, ada yang ditusuk lidahnya... Pokoknya... semakin banyak yang ditusuk kayaknya semakin canggih. Anehnya, tidak berdarah dan mereka tidak keliatan kesakitan... Malah, jika ada penabuh gendang... Mereka ikut menari dengan gerakan yang cukup heboh. Tidak hanya laki-laki, tetapi ada juga yang perempuan, walaupun mereka tidak ikutan mengusung kostum parade yang segede gaban. Biasanya hanya kendi yang mereka letakan diatas kepala. Tapi teteeeeppp... lidah menjulur keluar dan ada tusukan konde menancap disana... Oh mi got! What's going on? Singapore has a substantial Hindu community. About 6% of its population are Hindu. The Hindu people are intense about their religion, and take some extraordinary measures to display their devotion. Today is a good example is the THAIPUSAM festival. According to my investigation :) Thaipusam is the feast for the son of Shiva, Lord Subramaniam. (Siapa ya nih? Baru pernah denger) It's celebrated annually, in January or February. Again, katanya si Lord Subramaniam is the universal granter of wishes. Wow! All those who wish to ask for a future favor, fulfill a vow in return for a granted favor, or to repent for past sins will participate in this festival. Bayangkan, setiap orang berjalan kiloan meter dari sebuah Temple di dekat Little India dengan membawa offering masing-masing. Ya... yang ditusuk-tusuk itu tadi. Many raised the stakes by entering a trance, and piercing their bodies with skewers. Saya ikuti prosesi orang-orang yang sedang trance ini. On the way up the street, I saw a man hobbling along. "That guy's got a problem," "Yeah, he's got a problem, all right," "His shoes are made of nails!" Sure enough, his shoes were made of nails. Each shoe had a wooden base, with about 60 to 100 nails sticking up out of the base. The nails look old and rusty. Aduuuuuhhhh nyaaiiiii! Sakit atuh! I passed the nailman, and followed the procession to the Hindu Temple. There I found hundreds of people waiting to enter the temple with their offerings. We found a spot on the temple steps, just as the sun was rising, and watched the participants. Each person showed devotion in a different manner. I saw a lot of shaved heads and more number of pierced tongues and cheeks. Some men hung fruit from their flesh with fish hooks, giving the effect of a human Christmas tree. In lesser numbers, I saw trance dancers, swaying to the beat of musicians in religious ecstasy. At one point, screams emerged from the temple entrance and I turned to see a man submitting himself to a belt whipping. His partner then brought out a four inch thick rope, to increase the pain (and devotion). Temple officials quickly interrupted that effort. It is possible to have too much of a good thing, I guess. Of course, not all Hindus find it necessary to go to these extremes. Many are content with a simple offering from the heart. ![]() But still! It looks so painful just by watching them...Enough... I remembered I haven't taken a shower... Gotta go home. And that's how I devoted my self to the divine, taking care of my self biar bersih... :) hihihi! Giling! Emangnya gue sate, ditusuk-tusuk! ![]() |
Fortuna, Singaporea student, a fashion marketer a.k.a fashion slave, and a proud mother of an adorable daughter.
|
||
