![]() |
|||
|
Friday, March 03, 2006
Everything About India *almost*
Mengawali suatu pagi di hari Minggu...Martabak: 'I feel like curry today...' Me: 'Maksudnya kari India?' Martabak: 'Yes... ' Me: 'Nggak salah??? Yang lain aja deh...' Martabak: 'Why not...??? Kita belum pernah having real Indian food... Selama ini yang kita makan hampir Oriental semua.' Me: 'Mmm... Ya udah kita ke Bugis Junction aja...' Martabak: 'I was thinking 'Little India', Mustafa area... ' Me: 'Bugis aja... Kan ada food court...' Kata saya setengah memaksa. Martabak: 'Food court? Mana enak? Karinya nggak real...' Me: 'But... I don't like curry...' (dengan wajah memelas) Martabak: 'Hahaha! So that's why... Why didn't you say so? Actually, they have various type of cooking style. Nggak semua curry kok... Ada yang di grill juga... C'mon... Just try... You'll love it...' 'Aaaarrrggghhh nggaaaaaaaaak maaauuuuuuuuuuuuuu!!!' Harap maklum lidah saya lebih bisa bersahabat dengan makanan-makanan Oriental seperti Chinese, Korea, Jepang, Thai, Vietnam... Apalagi dalam kondisi lapar, saya pasti cari makanan yang bisa mengenyangkan perut dan memuaskan hati. Ya, saya memang picky... But my posting this time is not about food, not exactly... Saya nggak mau dibilang rasis... Karena memang saya merasa saya nggak rasis. Saya nggak bermasalah berteman dengan siapun dari suku, ras dan bangsa manapun. Tapi dari dulu saya punya kecenderungan untuk menghindari segala sesuatu yang berbau-bau India dan daerah sekitarnya. Begini ceritanya... Sewaktu saya lahir, hampir semua oom dan tante sudah melihat adanya bakat dari wajah saya untuk menjadi seorang anak orang India. 'Ini bayi kok lebih cocok jadi anak India ya?' kata salah seorang dari mereka 'Iya bener juga ya... coba liat deh mukanya...' balas yang lain 'Masa muka isinya cuma mata doang... saking belo' nya' komentar yang lain lagi 'Item pula lagi kulitnya...' sambar yang lain Untung saya masih bayi jadi masih bisa EGP ABC. Coba kalo saya bisa ngomong saat itu juga, mungkin saya marah-marah sambil cabut-cabut rambut dikepala kali ya? Hiiii! Kayak Chucky! Bayangkan, sedari kecil, saya sudah jadi bulan-bulanan mereka. Tapi seiring dengan bertambahnya usia dan kecepatan otak dalam mencerna sebuah kalimat, rasa sensitif semakin terasah ketika permasalahan muka dan mata saya yang belo' ini diungkapkan dalam acara-acara keluarga atau kesempatan lainnya sekalipun. It wasn't sound like they were embracing or complementing my looks... It was more like degrading my existence as a child... Bener deh! Seperti ditusuk belati... aiiih hiperbolanya... 'Kamu tuh sebenernya bukan anak mami kamu... Karena kamu tuh ketuker di RS' Kata tante. Saya sok cuek dan main sendiri, walaupun kuping tetap pasang radar. 'Kebetulan waktu mami kamu melahirkan, disamping mami kamu ada orang India juga yang melahirkan.' Tak peduli saya yang asik sendiri, tante saya terus saja asik mengarang cerita tentang saya versi otaknya. Tentu saja, karena ucapannya ini disampaikan saat sedulur yang lain juga sedang berkumpul, kalimat ini mengundang derai tawa para pendengar yang lain. Huh! Betapa mangkelnya saya waktu itu... Dan karena saking seringnya saya jadi bahan ejekan... Saya jadi mengambil sikap untuk anti terhadap segala sesuatu yang berbau-bau India. Ya makanan, ya film, lagu, baju... apaan aja deh... 'Eh si Item India... Kamu seharusnya cocok mangkal di Pasar Baru jual kain.' lagi-lagi lontaran dari mulut salah seorang dari mereka. Saat itu rasanya tidak saja saya menjadi sedih tapi sekaligus geram. Diam-diam saya suka menangis. Apalagi saya memang bukan tipe yang mudah untuk bersilat lidah. Biasanya, saya hanya pasang muka kursi lipet dan air muka yang masam dan tak menghiraukan kata-kata dari pihak-pihak yang menghibur saya. Mungkin pada akhirnya mereka sadar, bahwa saya sudah mencapai batas kesabaran. Karena saya selalu diam seribu bahasa jika bertemu mereka. Cieeeh anak kecil aja bisa mogok bicara! Hahaha! Such a drama queen nggak sih? Ketika di usia remaja, saya sudah mati rasa dengan olokan, ejekan dan lontaran kata-kata sejenis. Tapi, di otak saya, sudah terdoktrin berkat stimulasi bertahun-tahun yang menjadikan saya seorang yang anti India. Beberapa tahun yang lalu, ketika film India booming, mana mau saya lihat TV apalagi nonton film Indihe ke bioskop. Huaah... ogah ogah... Mana waktu itu, seorang teman dekat jadi getol banget nyanyi lagu-lagu Indihe dari Kuc Kuc Hotahe? Bener nggak nulisnya? Kebetulan teman tersebut sedang belajar Tata Busana dan pengaruh India tidak saja merasuk dalam kesehariannya tapi juga hasil rancangannya. Astagaaaa... Sambil menyanyikan salah satu lagu dari film Bollywood, teman saya menggoreskan rancangan baju Sari berikut asesoris tetek bengek nya... Sekarang, setelah saya pikir-pikir lagi, sekeras-kerasnya saya berusaha untuk menjauh dari India... Ternyata kehidupan saya semakin dihiasi dan dikelilingi oleh segala sesuatu about India. Coba ya... Waktu melahirkan, dokter yang menangani adalah seorang wanita keturunan India. Cantik dan baik hati. Roommate saya dulu juga orang India... walau ada kesalahan saraf, tapi dia tetap baik hati pada saya, saya sering diajak makan bersama dengan keluarganya. Bahkan saya pernah didandani ala gadis India dengan Sari dan perhiasannya. Menatap diri didalam kaca... Rasanya tak percaya, wajah saya benar-benar menyatu dengan sempurna dengan kostum yang saya kenakan pada saat itu. Bahkan, saya pernah didaulat untuk menari Bali di acara Komunitas India di Amerika. Ketika acara selesai, bak primadona dari Calcutta saya menjadi pembicaraan para cowo' India disitu... 'Gimana ayamnya? Enak nggak?' kata Martabak membuyarkan lamunan saya yang sedang menikmati sepotong ayam Tandoori. 'Hmmm ok laah... ' Jawab saya biasa, padahal dalam hati... 'ajegile endang bambang ni ayam. ' Martabak:' Anyway... Jadi hanya karena itu kamu jadi anti India?' tanyanya penasaran Me:'Iya... Simple kan?' Martabak:'Sekarang udah enggak dong...' Me:'Iya agak masih sedikit... Suka nggak tahan kalo denger lagu India... Don't know why... Ya semoga nggak keterusan siiih...' kata saya lagi menjelaskan Martabak:'Now you know... You can't run away from it babe. You named your daughter Maharani, which is very much an Indian name and you call me Martabak in your blog... also sounds very Indian to me. It is rooted in you now... Like it or not whether you realize or not...' Timpalnya panjang lebar Me:.... Ya, saya tidak terlalu menggubris apa kata Martabak karena saya sedang sibuk menikmati Chicken Tandoori yang aduhai rasanya. Sekarang hampir tiap malam saya suka mencuri waktu ke kedai seberang untuk menikmati Prata Banana yang sungguh sangat nyumiiie... Martabak saya ini juga ternyata bisa loh nyanyi lagu India walau hanya satu. Saya lupa judulnya apa. Tapi suara tenornya bisa persis kayak penyanyi India beneran dan bahkan berhasil menstimulasi senses saya akan lezatnya Ayam Tandoori yang pernah saya nikmati... So... Siapa bilang saya nggak suka India??? Hehehe! ![]() |
Fortuna, Singaporea student, a fashion marketer a.k.a fashion slave, and a proud mother of an adorable daughter.
|
||
