![]() |
|||
|
Monday, March 27, 2006
Demi Semangkuk Nasi
Hari itu rasanya semua barang pingin saya lempar, tendang, buang... Kelelahan fisik terasa sudah mencapai titik kulminasi yang sulit sekali saya toleransi lagi. Bagaimana tidak?! Sudah berminggu-minggu saya sudah seperti Budak Romusha... Pulang pagi karena urusan kantor tapi ngantornya pun juga tetep harus pagi...Teman: 'Asik banget ya kerja kayak loe bisa ke tempat-tempat dugem...' Saya:'Hahaha! Ya asiknya pas awal aja... Sekarang sih udah nggak kuat... Badan gue udah di hajar kanan kiri atas bawah niih... Bentar lagi rontok tau!' Teman: 'Tapi kan loe bisa ketemu banyak temen baru kan? Masuk dunia para Fashionista... Uh uh uh! Ngiri gue...' Saya:'Hmmm... Next time, loe gantiin gue deh kalo memang sebegitu pengennya... Lumayan juga punya assistent' Teman:'Boleh deh... Tapi minus bikin paper work-nya yaa...' Saya:'Terserah...' Entah kenapa... Teman saya ini sebegitu irinya dengan aktivitas pekerjaan saya. Dan dia bukan orang pertama yang mengutarakan hal yang serupa... Masih banyak yang lain lagi menginginkan aktivitas serupa. Sore itu, tepekur didepan monitor computer, saya mencoba menyelesaikan annual sales report. Kondisi sudah emergency, harus segera dirangkum karena memang tahun 2004 sudah hampir berakhir. Minggu depan sudah berganti angka lagi... Saya tidak punya waktu banyak... Karena malam itupun saya harus menghadiri acara promosi product yang sedang saya pegang. Malam itu sebenarnya adalah malam Natal... Usai mengikuti misa malam Natal... Oh oh! Pekerjaan sudah menanti di sebuah club dugem yang juga baru saja dibuka... Lagi-lagi saya harus mengorbankan waktu saya untuk sebuah pekerjaan. Tentunya kalau boleh memilih, saya lebih pilih untuk tinggal dirumah... Oh well! Segara saya meluncur menuju tempat dimana pasukan promo sudah menanti kehadiran ibu cerewet... saya!:D Sesampainya dilokasi, segera tanpa membuang waktu saya memberikan instruksi dan pengarahan ala saya... Sebenernya sih sama aja seperti 'briefing' dikantor... Hanya ingin mengulang dan mengingatkan. Maklum, kadang orang nggak bisa inget hanya lewat satu kali pengumuman kan? Sementara karyawan beraksi, saya memilih untuk bersembunyi dibalik sebuah meja di salah satu entrance... Hanya duduk dan sambil memantau situasi... Saya lirik jam di handphone, sudah lewat jam 12 malam. Antrian manusia yang panjang, dentuman musik dengan kekuatan speaker yang membuat jantung berdegup 3x lebih kencang dan tentunya menahan rasa kantuk yang luar biasa hebatnya. Akhirnya daripada saya jatuh tertidur... Saya ikut nimbrung dengan karyawan, berpromosi ria, senyum sana sini, nyengir kuda. Menu saya malam itu adalah bergalon-galon air putih. Yaa... Pertama saya lagi ngantuk dan saya tidak ingin 'fly' dan mengoceh 'onde brai in de brei an de brei' Tapi hal ini mengakibatkan saya jadi sering 'beser'... Mondar-mandir WC... Dan untuk yang kesekian kali saya terpaksa mengantri cukup lama... karena memang penuh dan salah satu WC penuh dengan hasil undian yang nggak asik hadiahnya... alias 'JACKPOT'... Yuck! Mata saya tertarik untuk melihat si mbak-mbak yang sibuk membersihkan... Dari belakang sosoknya kurus dan kecil... Rambut sebahu agak keriting freezy diikat satu. Ketika dia menoleh, yang saya lihat hanyalah peluh yang mengalir didahinya. Wajahnya tidak menyiratkan kesan apapun... FLAT! Entah apa yang ada dibenaknya saat itu... Aahh... Lega! Cukup panjang juga tadi antriannya... Sambil mencuci tangan, sedikit membasahkan mata yang sudah mulai berkantung, memandangi wajah yang kusut masai di cermin... Sementara disamping saya 2 wanita terlibat pembicaraan 'serius' mengenai laki-laki yang baru mereka kenal ditempat itu, di pojok belakang duduklah si mbak kriting sambil memegang sapu layaknya penjaga WC yang menanti 'kejadian' selanjutnya. Badannya memang kecil dan wajahnya tidak seperti mbak-mbak penjaga ditempat lain... Yang ini masih belia... Saya: 'Boleh minta tissue nggak mbak?' Mbak:'Adanya tissue ini...' Sambil menyodorkan tissue gulung kepada saya... Suaranya jelas menunjukan dia masih kecil... Saya: ' Nggak apa-apa... Ini juga boleh deh... Mmmm... udah berapa lama mbak kerja?' Tanya saya sambil mengelap sisa-sisa air ditangan. Mbak: 'Baru satu minggu...' Menjawab dengan muka was-was dan heran. Entah mungkin dia bingung ada orang yang ngajak ngomong... Saya: 'Nama mbak siapa?' Tanya saya lagi dan kali ini saya benar-benar ingin tahu... Mbak: ' Sari' Jawabnya dengan suara yang masih pelan Saya: 'Saya Fortuna' Sambil menyodorkan tangan saya... Sari membalas menjabat tangan saya walau tampak ragu-ragu 'Saya juga lagi kerja disini... Tapi cuma untuk malem ini aja...' Sari:'Ooh... Mbak yang pasang poster didepan pintu itu ya?' Saya:'Ya betul! Seratus buat kamu!' Jawab saya dengan gaya juri Cerdas Cermat... Entah lucu dimana... Tapi nampaknya saya membuat si Sari ini tertawa... Tampaklah deretan giginya yang kecil dan agak jarang... 'Kok kamu bisa kerja disini Sar?' Sari tertegun dan sempat terdiam... Sari: 'Saya kan anak paling tua... Saya masih punya adik banyak... Dan orangtua saya juga nggak punya kerja mbak... Jadi, saya yang kerja... Ditawarin kerja sama 'uak' saya yang udah duluan kerja disini'. Saya:' Memangnya kamu umur berapa sih Sar?' Sari:'15...' Sudah saya duga... Anak ini masih belia... Dan nggak seharusnya dia berada disini... Jam segini pula... Yang saya lihat diwajahnya hanyalah wajah seoarang anak-anak... Bagaimana kalau anak saya yang bernasib seperti dia? Jam sudah menunjukan pukul 3 lewat, sementara musik masih berdentum kencang, asap rokok dan wajah-wajah sayu dengan aliran alcohol didalam darah mereka berkeliaran keluar masuk club, berpindah ruangan, membuang hajat dan seterusnya... Sebuah pemandangan yang tadinya cukup biasa buat saya... namun kini menjadi sangat luar biasa... Luar biasa untuk seorang teman baru saya yang bernama 'Sari' yang saya yakin... tidak ada dari mereka yang tahu menahu... or most probably... tidak mau tahu... Sari... dimanapun kamu sekarang... semoga kamu tidak patah arang, semoga kamu berada disuatu tempat yang aman. With your 'nothingness', you've given me more than you could possibly ever imagined. Terimakasih untuk menyadarkan saya... Everything that you did... Semua hanya demi semangkuk nasi... demi bertahan untuk bisa terus hidup... FYI, club tersebut terpaksa ditutup karena terjadi sebuah penembakan di malam Tahun Baru, 1 minggu setelah pertemuan saya dengan Sari. Thanks to Rita... Yangpostingannya, mengingatkan saya akan kejadian tak terlupakan di malam Natal yang lalu... ![]() |
Fortuna, Singaporea student, a fashion marketer a.k.a fashion slave, and a proud mother of an adorable daughter.
|
||
