Sebuah Pengakuan

Seorang teman berkebangsaan Jerman pernah mengatakan kepada saya bahwa dalam beberapa kali kunjungannya ke Indonesia dia harus menahan nafas ketika berada ditengah lalu lintas jalan-jalan di Indonesia, tak terkecuali tentunya ibu kota tercinta Jakarta. Menurutnya, orang-orang Indonesia itu bisa ambil pekerjaan sampingan sebagai pemain sirkus.
Saya tentunya mempertanyakan 'statement' tersebut... Beliau seakan trauma untuk berkunjung ke negri kita tercinta.

'Why?' tanya saya.

'Wah, nggak lagi deh... saya bisa jantungan melihat bagaimana cara orang membawa kendaraan, baik yang roda 2 sampai roda banyak...' sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

'Memangnya kamu pernah nyetir waktu di Indonesia?'

'Cukup sekali dan that was it... Once was enough!' Katanya berapi-api. 'Coba ya bayangkan, bagaimana saya nggak jantungan melihat motor yang ditumpangi bisa memuat beban lebih dari yang seharusnya. Sebuah keluarga dengan 2 anak kecil, harus berhimpitan diatas motor yang kecil. Tetapi yang membuat saya tak akan bisa lupa, saya hampir menabrak motor dan keluarga tersebut karena out of nowhere, mereka muncul dengan kecepatan tinggi menyalip dari samping. I'm a good driver and I have always been... Namun, dengan kondisi seperti itu, saya yakin cepat atau lambat pasti saya bisa mengalami accident.'

'Hmmm... serem juga siiih... Saya udah berapa kali accident, sekali nabrak motor juga. Untung orangnya baik-baik aja... Tapi saya nggak kapok... Lah wong kejadian kayak begitu mah udah sering terjadi di Indonesia. Setahu saya, di Jerman orang kalo nyetir juga super fast... Bener nggak? Itu juga malah apa nggak serem?'

'Fast bukan berarti tidak ada aturan. Somehow kami sudah biasa mengemudikan kendaraan dengan cepat tanpa ada rasa takut, karena kami yakin pengemudi yang lain akan menaati peraturan dan memang begitu kenyataannya.' kata teman saya lagi berusaha menjelaskan.

Ya peraturan... Lagi-lagi sebuah teori... Entah kapan memang orang Indonesia akan bersahabat dengan peraturan, baik dalam membuat, menerapkan dan tentunya mematuhinya.
Akhir-akhir ini berita dari tanah air membuat saya semakin resah... Bertubi-tubi kecelakaan transportasi baik udara maupun laut terjadi. Salah siapa? Pilotnya? Nahkodanya? Perusahaannya? Mentrinya? atau penumpangnya? Siapa yang mau mengaku salah? Tentunya tidak ada yang berani... Ujung-ujungnya lempar kesalahan...

By the way... Berikut adalah pengakuan saya...

Beberapa hari yang lalu, saya ketinggalan pesawat tujuan Singapore... Alasannya standard! Kejebak macet! Perhitungan saya yang terlalu pede, ternyata meleset. Alhasil saya harus mencari pesawat alternatif dengan rute alternatif juga. Maka, dengan alasan mengirit ongkos saya memilih untuk terbang ke Batam.

Namun, setelah maskapai penerbangan favorite menolak saya dengan alasan penuh, saya panik... Beberapa nomer penerbangan alternatif juga sudah penuh dan satu-satunya yang tersisa jelas bukan favorite saya dan tentunya juga bukan favorite kebanyakan orang, apalagi setelah dua kali mengalami 'accident' dalam kurun waktu 2 bulan di awal tahun ini. However, it was come to my surprise... Ternyata tujuan Batam dengan maskapai horor ini pun penuh.
Akhirnya, karena melihat wajah saya super panik, Pak Porter yang sudah sedari awal mengikuti saya dari satu counter ke counter yang lain sambil mendorong troley yang sarat muatan oleh koper saya akhirnya bersuara...

'Mbak, daripada nggak ada kepastian, mendingan mbak saya kenalkan ke calo ticket. Lewat mereka bisa dipastikan 99% pasti dapet.' Katanya santai...

Saya terhenyak... Karena seumur-umur belum pernah saya berurusan dengan manusia yang berprofesi sebagai calo ini. Saya sudah punya bad image sendiri tentang calo. Calo apapun...
Tapi, lagi-lagi... saya gamang... Saya harus berangkat dan saya benci segala sesuatu yang tidak pasti... Apalagi disaat-saat seperti ini... Saya butuh kepastian...

Akhirnya, lewat Pak Porter, saya berhadapn dengan 2 laki-laki, The Calo. Saya tahu persis bahwa harga yang harus saya bayarkan pastinya akan jauh diatas harga resmi... Namun, yang lebih crucial disini adalah maskapai penerbangan mana yang bisa mereka dapat dan nampaknya mereka cukup gigih dalam meyakinkan saya... bahwa maskapai horor itulah yang paling mudah mereka dapatkan. Lewat perjanjian lisan, akhirnya saya mengiyakan tawaran mereka asalkan mereka bisa menjamin bahwa saya pasti berangkat. Entah apa yang ada di benak saya waktu itu... Tapi yang pasti saya nekat!

Setengah jam sebelum jadwal keberangkatan akhirnya dengan tergopoh-gopoh Mas Calo memanggil saya untuk segera membayar uang ticket yang berjumlah plus plus itu. Setelah uang diserahkan, saya hanya bisa berdiri dibelakangnya sambil melihat kesibukan yang luar biasa di counter ticket maskapai tersebut. Karena ternyata saya tidak sendirian. Beberapa penumpang lain juga menggunakan jasa calo.

Mohon diingat, saya hanya memiliki kurang dari 30 menit untuk bayar ticket, issued boarding pass dan checked in lugage dan berlari menuju gate. Tidak hanya semua serba express, tetapi juga tata cara yang biasanya berlaku juga tidak terjadi. Contohnya, koper saya sama sekali tidak ditimbang dan tidak masuk dalam data mereka. Bagaimana saya tahu? Tentu saja saya tahu... hampir selama proses kejadian saya terus mendampingi koper agar tidak raib... Koper saya hanya ditempeli stiker dengan nomer yang ditulis tangan. Lalu dua orang pria langsung menggeretnya ke 'belt' berjalan untuk langsung masuk ke pesawat. Juga diingat kembali bahwa saya bukanlah satu-satunya yang mengalami proses ini. Jadi, bisa dibayangkan berapa koper yang sengaja tidak ditimbang? Yang lebih mengejutkan lagi, salah seorang dari pria tersebut mengakui bahwa ini menyalahi peraturan, namun system komputer akan memperlambat proses maka jalan pintaslah yang digunakan.

Apakah saya salah? Pastinya deh! Selama perjalanan menuju Batam tak ada hentinya mulut saya terus mengucapkan doa... Walau akhirnya saya selamat sampai tujuan, toh saya tetap merasa bersalah... Bukan saja saya menggunakan jasa calo... Tetapi dengan jasa calo, peraturan dan prosedur dikesampingkan demi uang tanpa memprioritaskan keselamatan penumpang. Para calo ini sudah mengenal istilahnya 'orang dalam' yang membantu mereka dalam beroperasi. Tentunya dengan diiming-imingi pembagian jatah dari calo tersebut. Kalau ada demand tentunya ada supply. Karena demandnya pun semakin subur... tak ayal praktek ini akan terus terjadi. Bayangkan ini hanyalah sekelumit cerita... The whole process??? I don't know... Saya sudah serasa badut dalam sirkus yang tengah memegang bahan peledak...

Itulah pengakuan saya....

Labels: ,



Posted by Fortuna at 1:59 AM || 15 comments



Singapore's Sky

Masih ingat salah satu hal aneh dari 5 hal aneh
yang sering saya lakukan?Well... Memandangi langit memang tidak hanya mampu menyalurkan hasrat ajaib saya, tetapi ternyata langit dimana saya bernaung mampu memberikan beragam rasa... Seperti mendapat extra energi ketika bias sinar matahari senja merayap atau menjadi sendu karena langit yang kelam berbaur pekatnya awan yang membawa hujan... Tetapi... ketika terlihat langit biru nan cerah saya langsung cari posisi dan style ala superman siap untuk terbang... (weeiiiss...mulaiiii ngawur ngelantur iiniih...)

Anyway, berikut hasil bidikan amatiran saya selama berada di Singapore... and I thought I would like to share it with you...

Carlsberg Tower dan langit senja di atas Sentosa Island

















3 orang gitaris dan senja diantara pencakar langit Esplanade

















What a perfect carnival with a perfect blue sky...






















Cloudy night di penghujung tahun 2005

















Stormy Day, a view through the MRT window on my way to Jurong East






















Dark and hazy night sky :(


















Bangun pagiii... Loh? Masih hazy juga?
























Ini nih... Imbas dari kebakaran hutan di Indonesia... Dan jangan tanya rasanya kayak apa berada diluar sana... Bau asap! Not healthy at all... Langit biru itu hilang... Superman nggak bisa terbang... 'UHUK!'


Posted by Fortuna at 1:46 PM || 12 comments



Parklane Yang Menghibur

Suatu siang ketika Fortuna lagi mati gaya...

'Duh! Mau kemana ya? Dirumah udah bosen... Jangan bilang ke Orchard deh yaaa... Selain nggak kreatip, pulang-pulang bisa miskin... Dan iman lagi kurang kuat nih hari ini...' *ciiieeehh*

Lalu pangeran 'martabakku' datang dengan kuda lumpingnya...

'Kita ke Parklane aja! Gimana?' Begitu katanya dengan semangat abad 21.
'Hah? Kok Parklane sih? Bukan soal karena gedungnya lusuh yaa... Tapi nggak jelas gitu isinya... Paling cuma ada Mc.D sama tempat deeskoh nggak jelas... Nggak mau aah!' Kata saya dengan gaya ogah-ogahan...
'Eeehhh... belom liat udah judging duluan... Beneran deh... banyak yang seru-seru disitu... Yuk?!' Katanya lagi sambil menggeret tangan saya...

Bener-bener males banget kalau sampai harus end-up di Parklane. Tempatnya sih deket banget dari tempat saya tinggal... Cuma... ya itu tadi... lebih dari 50% masih berupa ruangan-ruangan kosong. Beberapa toko bahkan hanya bertahan 2 bulan maksimal... saking sepinya. Apa yang bisa diliat?

Masih dengan gaya ogah-ogahan dan gaya berjalan kaki diseret, masuklah saya dan martabak ke Parklane... Bau khas bangunan tua dan lapuk menggelitik hidung dan gaya penerangan jaman 80-an ala Melawai, Lipstick dan Happy Days sangat terasa.

Dulu-dulu sih masih sering ke Parklane ketika masih ada cabang Es Teler 77. Tapi sejak tempat makan itu tutup, maka saya stop menjejakan kaki kesana... Eh enggak deng... Tiap awal bulan saya absen di pintu masuknya, karena disitu diletakan AXS, sebuah benda ala ATM yang mempermudah transaksi pembayaran listrik, tv, air, dll. Ya... jadi cuma sebatas sampai di pintu masuk. Lebih dari 5 meter... Hmm... enggak aaah... males!

Okay... back to that afternoon...

'Pokoknya, I want to show you this shop' Kata martabak lagi dengan wajahnya yang teuteep girang.
'Kekueh banget sih?' Tanya saya, terheran-heran.
'Sssttt! Brisik deh... Kamu pasti suka...' Jawabnya dengan penuh keyakinan.

Martabak sendiri sempat nyasar ketika mencari toko yang dimaksud. Apalagi dengan bentuk toko yang mirip-mirip. Loh? Blok ini sama yang tadi kok mirip? Ooohh pantesan... kita dari tadi muter-muter di lokasi yang itu-itu juga...

Akhirnya... Taraaa!!! Wuuaaahhh lihatlah! Toko komik!!!

'Kereeen bangeeet!' Kata saya sambil terbengong-bengong melihat toko berukuran se-umprit yang ada didepan saya.
Seorang pria tua yang menjaga toko tersebut, menyambut kami berdua dengan senyuman.
We are not talking about normal and regular comic books... We are talking about oooollllldddd comic books... Batman, Superman jaman jebooot... Even those super heroes yang saya udah nggak tau lagi namanya siapa... saking oldiesnya... Dan harga tiap bukunya lumayan mahal... Antara 20 sampai 50 dollar singapore.

Puas melihat-lihat dari tempat komik, kami menemukan tempat khursus ballroom dance. Kebetulan, kami bisa mengintip dari luar. Seorang laki-laki, yang bertindak sebagai instructor sedang membetulkan posture salah seorang muridnya. Persis disamping tempat khursus tersebut, sebuah toko menjual peralatan ballroom dance. Lengkap dari sepatu sampai bajunya. Didalamnya, seorang laki-laki setengah baya dengan potongan ala Datuk Damsyiek sedang melayani seorang tamu bergaya ballroom dancer.

Martabak sendiri menunjukan toko favoritnya, toko alat musik yang dipintu masuknya ada sensor yang selalu berbunyi 'Hello! Welcome!' kepada siapapun yang masuk ataupun keluar toko. Toko ini menjual beragam jenis gitar dan keyboard. Ini bukan gitar kacangan. Saya sudah curiga... Kenapa tiap gitar kok pake nama segala? Must be special dong! Sebuah gitar bernamakan Timothy bisa dibeli dengan harga 800 dollar saja... atau ada lagi... sayang saya lupa namanya apa karena sudah keburu pingsan melihat harganya yang mencapai 4000 dollar saja. DAR!

Seperti yang saya sudah bilang tadi, tidak semua terisi. Sebagian masih kosong atau tetap kosong karena tidak ada tenant yang mengisi. Jadi kami harus berjalan menyusuri lorong-lorong sampai kesudut-sudut untuk melihat apa lagi yang ditawarkan Parklane mall ini.

Di lantai dasar, kami menemukan toko perangko yang menjual koleksi perangko dan koin-koin tua. Sayangnya, toko tersebut gelap alias tutup. Yang terlihat hanyalah perangko dan uang-uang tua yang ditempel di pintu masuk. Di lantai-lantai atas, ternyata lebih banyak toko seru yang kami temukan.

Tempat pengobatan tradisional ala India yang berdampingan dengan Pub, sebuah tempat karaoke (nggak tau deh pake element XX atau enggak), Toko Good Luck yang ternyata menyediakan service sebagai penasihat perkawinan, Penyalur tenaga pembantu (khusus India), ada biro jodoh Life Partner matchmaker yang menawarkan wanita-wanita single dari Vietnam lengkap dengan photo ukuran 5R di etalase nya (menandakan krisis wanita single and available di Singapore?), lalu yang lebih seru, sebuah pintu kaca yang bertuliskan Golden Eye, Investigation and Security Services. Mereka tidak saja menawarkan jasa keamanan untuk kantor dan rumah... Tetapi layaknya Golden Eye nya James Bond, mereka menawarkan jasa untuk memata-matai pasangan yang dicurigai selingkuh!!! Uuuhhh beraaatttt!

Tentu itu belum semuanya ya. Masih banyak yang saya dan martabak temukan cukup bisa membuat kami terkagum-kagum, terpana heran dan bahkan terbahak-bahak. Ini mall emang seru banget! Unik dan full of surprises...

Let me tell you... Kalau bosen ke Orchard... mendingan ke Parklane... Kali aja bisa memberikan inspirasi baru... Seperti yang terjadi dengan saya... Puas dan happy... Tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun...



* Golden Eye - Investigation and Security Service Pte.Ltd.
* Life Partner Matchmaker Pte.Ltd.
Dipilih dipilih photo-photo mbaknya!
* GoodLuck - Marriage Counseling




** Just in case anda penasaran... Go to Selegie Road, next to Peace Center... You'll find Parklane Mall there :)


Posted by Fortuna at 2:07 AM || 11 comments



'AA'! Help!

Akhir pekan lalu, saya berkesempatan menghadiri sebuah acara launching sebuah product apparel khusus pria... Kebetulan sang penyelenggara ingin menyajikan sebuah konsep total yang tentunya bisa membuat image tersendiri terhadap product tersebut. Wild, sexy and you know the rest... Mungkin targetnya adalah pria-pria ganjen, womaniser... or entahlah...

Maka berdirilah para wanita dengan pakaian minim... Jujur saya sendiri agak risih... bukan karena kurangnya kain yang menempel di badan para wanita tersebut... Tetapi lebih kepada proporsi badan mereka. Ada yang kuruuuuuusss banget dan maaf... bemper nya kok rata? Sehingga baju yang dikenakan tetap bisa melambai-lambai walau sudah diikat kuat-kuat supaya terlihat ketat... At the end... image wild, sexy and you know the rest kurang sekali dirasakan... It was more like creepy, breezy and I don't want to know the rest...

Mungkin memang sulit di Singapore untuk bisa menemukan wanita muda dengan badan berisi... Rata-rata yang saya temui di Orchard pun kurus-kurus... bak tulang belulang... Saya pun yang sudah kurus bisa terlihat 'somehow' lebih gemuk dibanding mereka...

Anyway... kembali lagi kepada apa yang saya coba sampaikan tadi... Menyajikan sebuah konsep pada saat crucial seperti product/brand launching atau bahkan hanya promosi kecil-kecilan sekalipun... haruslah total... walau budget minim, you have to go with all the details... Set aside the ego... and any personal preferences yang jelas-jelas nantinya tidak bisa mendukung konsep dan pesan yang ingin kita sampaikan...

Dulu, teman saya juga mengalami krisis serupa... Kebetulan beliau memang memiliki hobby mengarang sebuah cerita bergambar atau berphoto? Karena memang disajikan dengan photo-photo... Salah satu tokoh digambarkan sebagai seorang pria campuran Indonesia-Italia... Tetapi sayang... karena sebuah alasan yang menurut saya kurang kuat... teman saya ini memilih sahabatnya yang notabene berwajah sangat Kang Mas Jawani untuk menjadi tokoh tersebut... Mau dilihat dari sudut dan hitungan derajat manapun wajahnya tetap lebih cucok jadi Pangeran Diponegoro dan bukan Mafioso dari Sisilia. Tentu saja hal ini menimbulkan banyak pertanyaan para pembaca dan mungkin agak sedikit mengganggu imajinasi mereka.

Tadi sore, selepas menemani my 'martabak' berbuka puasa, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi sebuah bazaar. Festival yang di support oleh Singapore Tourism Board ini memang diselenggarakan untuk menyambut Hari Raya. Lokasinya pun disesuaikan dengan target market, dibawah tenda putih yang besar dekat sebuah mesjid di daerah Arab Street dan bertemakan 'Melaka Bazaar' ajang ini menyediakan segala rupa yang berkaitan erat dengan Hari Raya... dimulai dari makanan untuk buka puasa, baju dan alat untuk beribadah... bahkan beberapa booth dikhususkan untuk dealer mobil, property dan credit card. Ya sah sah aja... Kali aja pingin mobil baru, rumah baru dan perhaps... hutang baru... Hihihi!

Setelah keliling kesana kemari, sampailah saya di satu stand yang memang cukup menarik perhatian... 'Judul' stand yang terpasang memang familiar untuk saya... 'Ustadz AA Gym'!!! Wah hebat! Saya menemukan stand ini dipojok... Didalamnya terdapat tumpukan buku dan kaset dakwahannya... Didinding terpajang lembaran kain brocade bersanding dengan... mmm photo-photo AA Gym... hmm... Disisi lain tumpukan kain brocade beserta jenis kain-kain lainnya... plus tumpukan Sajaddah. Hmmm.... otak saya semakin merasa terganggu... ada yang kurang klop disini...

Apalagi... Ketika saya mendekati stand tersebut, saya langsung dihampiri oleh mbaknya... Mbaknya!!! Rambut sasak, di hilite pirang, flowy dress, low cut walaupun pake cardigan jaring-jaring... Seketika... konsep 'AA' buyar yar yar di kepala ini... Haduuhhh... Kalau 'AA' sampai tau....



* Ini photo mbaknya tampak belakang aja yaa...*


Posted by Fortuna at 9:52 PM || 8 comments



Membayar Hutang

Suatu hari di dalam SHOUTBOX

06/05/2006 00:42:59
inong
say, lanjutin estafet
darikuw yaaa... :)

Saya tertegun melihat pesan tersebut... Estafet? Estafet yang kayak apa ya? Karena terakhir kali saya diminta untuk menuliskan 5 keanehan, keajaiban dan ketidak pentingan dari kelakuan-kelakuan saya.
Intinya... bukalah aib dan sebar luaskanlah... Hihihi!

Pesan dari Bunda sampai harus saya tanyakan lagi, saya pastikan lagi... langsung kepada yang bersangkutan.

Saya: "Bener nih aku disuruh nerusin estafet?"
Bunda: "Beneraannn... Ditunggu yaa..."

Duh! Saya pusing tujuh keliling... Karena kali ini saya diminta untuk mengeluarkan isi tas, di photo dan lagi-lagi dibeberkan dengan gamblang. Saya membayangkan ini seperti lagi jalan-jalan di tempat umum... lalu saya gelar tiker dan mengeluarkan isi tas untuk dipertontonkan ke khalayak ramai. Kayak tukang obat ya nee?

Sore tadi, tepat 4 bulan setelah tongkat estafet dilempar oleh Bunda kepada saya... sebuah berita yang langsung membuat jantung saya berhenti, saya terima melalui Jeung Loucee...
Bukan... bukan tentang tongkat estafet pastinya....
It's about her... About Bunda... She passed away last Saturday... tepat ketika buah hatinya Syifa tengah berulang tahun.
Sampai saat ini, selagi jari- jemari mengetik, leher saya terasa tercekat, mata saya terasa panas... Saya... Saya kehilangan...

Sungguh aneh... Berawal dari dunia blog, pertemuan nyata saya dengan Bunda tidak lebih dari 2 kali... Namun, 2 kali pertemuan dengannya selalu memberikan suasana sejuk dan menyenangkan di hati. Just like the feelings I had everytime I visited her blog. Ketika kami bertemu, tidak banyak yang kami bicarakan, Bunda selalu tersenyum dan sesekali berceloteh tentang ini dan itu dengan logat Sunda nya. To me, she was just a regular 'ibu-ibu' who loved her children more than anything in this world... A dearest friend to many and a woman who nonetheless also a vulnerable human being...

Bunda, saya masih punya hutang... Walau ini terasa sangat terlambat sebenarnya saya nggak pernah lupa kok sama mandat estafet ini...
Dan kali ini, untuk Bunda, saya rela buka-buka-an... ;)




Selamat jalan Bunda Inong... Untill we meet again...
-love from one of your wannabes-


Posted by Fortuna at 2:02 AM || 7 comments



Perusahaan Keluarga

'Horeee!!! Keterima kerja!!!'
Hati langsung jumpalitan, guling-guling, koprol, salto... Begitu kali rasanya ketika pertama kali saya diterima kerja.

Yang membuat saya sorak sorai bukan saja soal dapet kerjanya. Tetapi juga tempat kerja ini memang sudah lumayan jadi inceran saya dari sebelum saya lulus kuliah. Kayak dapet durian runtuh gitu looh...

Di mata saya, perusahaan keluarga ini terlihat asik dan rasanya sih saya bakal 'belajar' banyak. Apalagi, team yang baru saja di recruit berbarengan dengan saya terdiri dari anak-anak yang masih muda belia. Rata-rata baru saja lulus seperti saya.

3 bulan melewati masa probasi, saya akhirnya ditempatkan dalam sebuah posisi yang banyak tantangannya. Sungguh! Tantangan dalam arti kata sebenarnya. Apalagi saya bekerja langsung dibawah salah satu bos besar, salah satu anak dari pendiri perusahaan. Terlepas dari karakter sang bos, saya juga harus benar-benar mengenal karakter dari bos-bos lainnya, kakaknya, adiknya, iparnya dan mungkin saudaranya anak dari tante nomer sekian. Entahlah... keluarga ini bukan keluarga kecil ala keluarga Budi yang cuma punya Wati dan Iwan. Tetapi keluarga besar yang jumlah anggotanya sangat cukup untuk membuat sebuah Liga sepakbola.

Lucunya, untuk hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan kerjaan, kadang saya pun juga ikut keseret-seret. Kadang, si adik ngambeg karena ide nya nggak disetujui, sang kakak dan seluruh anak buah si kakak jadi bulan-bulanan dan tidak akan luput dari cemberutan dan omelannya. Sering kali, kami seperti harus main kucing-kucingan dengan para bos-bos yang tengah bertengkar. Karena kami nggak mau ikut campur dalam urusan pribadi mereka. Tapi apa daya, walau tiap bos mengepalai divisi yang berbeda-beda, satu dan yang lainnya harus tetap menjalin komunikasi. Kalau tidak, kerjaan bisa tertunda dan ujung-ujungnya kita sendiri yang kena semprot dari atasan langsung.
Alhasil, kadang kami yang dijadikan umpan...

'Coba kamu telpon ibu ini... Minta dia untuk lakukan ini, itu dan itu...' Satu hari bos saya memberikan instruksi dengan muka masam...

15 menit kemudian...

'Udah pak! Tapi nggak berhasil... Saya telpon semua nomernya, sampai nomer rumahnya sekalipun, beliau tidak ada ditempat... Saya tinggalkan pesan ke sekretarisnya sih...'

'Hmm... Dia pasti ada... Cuma dia nggak mau angkat... Karena dia tau kamu yang cari dia...' Jawabnya dengan mimik seriusnya...

'Gini aja pak... saya nanti minta tolong Anita aja... Mungkin kalau lewat dia berhasil' Jawab saya mencoba mencari solusi. Ya Anita ini adalah teman baik saya yang juga jadi bawahan si ibu bos ini.

Setelah berhasil kontak dengan Anita, akhirnya saya berhasil mendapat jawaban. Tetapi, sebelum jawaban itu datang, mungkin hampir tiap 3 menit bos saya ini bikin saya spaneng. Terus saja saya ditanya... Iya, kalau soal kerjaan, bos saya ini memang terkenal nggak sabaran. Pokoknya result harus segera sampai di mejanya dalam kecepatan cahaya kalau bisa.
Sering, karena pressure sana sini, pertemuan antara teman kerja akhirnya membahas bagaimana keluarga ini bikin semua karyawan pusing.

'Masa hanya karena masalah 10 tahun yang lalu, kita yang kena getahnya sih?' Keluh salah satu dari kami...

'Iya resiko kerja diperusahaan keluarga sih niiih...' Jawab yang lain mencoba mencari penjelasan atas semua hal yang bikin kami pusing 7 keliling.

'Sampai kapan nih kita pusing begini? Mendingan suruh pada konsultasi psikolog aja deh... Namanya kakak adik tuh harus akuuurrr... Heran deh... Udah gede masih aja berantem...' Celetuk teman kami dengan gaya sok menasihati.

Setahun lebih beberapa bulan sudah lewat... Bos saya resign dengan alasan untuk memberikan kesempatan pada adik-adiknya untuk mengambil alih tampuk pemerintahan.

Sore itu hanya ada saya dan bos baru saya, ibu bosnya Anita...

'Fortuna, saya perlu bicara sama kamu diruang meeting...' Katanya sambil tersenyum.

Diruang meeting,

'Bapak kan sudah tidak aktif lagi... Saya mohon kamu sekarang bisa bekerja sama dengan saya... Kalau selama saya bersikap aneh... Semua ini karena saya ada masalah ini ini ini... blah blah blah...'

Mengalirlah cerita masa lalu awal mula sampai terjadinya permusuhan diantara mereka. Saya cuma mendengar sambil bingung... 'Kenapa harus tau juga soal masa lalu ini ya? Nggak ada hubungannya gitu loh sama kerjaan...

'... Jadi menurut kamu gimana?' Tanyanya memecahkan lamunan.

'Ha? Eh emmm... Gimana ya bu? Saya sih selama ini sih ok ok aja... Jujur saja bu... Saya nggak pernah merasa punya masalah baik dengan bapak apalagi dengan ibu. Hanya saya suka bingung dengan masalah pribadi yang baru saja ibu sampaikan... Karena saya rasa, saya tidak punya wewenang apalagi ikut campur...'

'Maaf kalau selama ini saya bikin kamu pusing. Tapi untuk selanjutnya, kalau ada apa-apa saya minta kamu langsung bicara sama saya... Bisa kan? Kalau memang ada bapak tiba-tiba muncul dikantor... Saya harap kamu bisa mengerti... Saya tidak mau kamu ada kontak dengan beliau... Karena saat ini adalah saya yang bertanggung jawab...'

Sementara saya menghela napas mendengar pernyataan beliau...

'Gimana? Kamu keberatan nggak?'Tanyanya kembali.

'Huh? Ehmmm... Saya coba deh bu...' Sambil melihat tanda tangan mantan bos yang masih terbubuh di kertas yang sedang saya pegang.

'Kamu harus bisa... dan saya yakin kamu pasti bisa...'

Dan .... Saya hanya bisa tersenyum...
Namun, sewaktu saya beranjak dari bangku... Tiba-tiba Ibu bos memanggil saya lagi...

'Boleh saya peluk kamu?' Tanyanya tiba-tiba... Dan melihat saya yang memandang aneh kearahnya... beliau berkata lagi...

'Saya bisa tau orang itu tulus atau enggak dari pelukannya...' Jelasnya lagi sambil berjalan kearah saya dan merentangkan kedua tangannya siap memeluk saya...

Dan tanpa menjawab sepatah katapun dan muka masih cengok' nggak tau apa yang sedang terjadi, saya membalas pelukannya...

Berpelukaaaaannnn...

Dalam batin saya... 'Am I being trapped??? This is so weird...'


Posted by Fortuna at 9:01 PM || 19 comments



Wierdo Wierdo on The Wall

Beberapa waktu yang lalu, Jeung Principessa menitipkan beberapa kata di shoutbox yang intinya memberikan mandat kepada saya untuk memaparkan segala sesuatu yang aneh bin ajaib tentang diri saya.

Saya sempat bingung, karena kayaknya kok tidak ada yang perlu saya ceritakan. Lah? Atau mungkin ini bisa jadi keanehan saya yang pertama. Tidak merasa aneh sama sekali... Hahaha!

Tingkat keanehan saya rasanya masih dalam taraf wajar-wajar saja... Suka moody... Who doesn't? Apalagi disaat PMS... Hampir semua wanita mengalami hal yang sama kan? But!!! Do they really know about me??? I guess NOT!
Lah wong namanya juga hal yang aneh... Kan belum tentu bisa terlihat langsung... Bisa jadi keanehan hanya terjadi didalam kepala saya dan nggak ada yang menyadari.
Seperti hal yang satu ini...

1. Memandang Langit
Siapapun pasti senang memandang langit biru yang indah atau langit yang bertaburkan bintang dikala malam. Semua juga akan menoleh ke langit ketika ada pesawat jet melintas dengan bunyi yang menderu atau ratusan layangan hias yang menari karena tertiup angin. Buat saya, ada satu lagi hal yang membuat saya menoleh ke atas... Bukan nunggu duit jatuh dari langit, tetapi saya sering berharap akan diperlihatkan oleh sesuatu yang aneh, terbang melintas dengan kecepatan tertentu, mungkin dengan bentuk yang beraneka ragam keluar masuk awan... yang orang bilang UFO. Kapan saya bisa melakukan ini??? Kapan saja saya mau... Tapi, tentu saja... ketika saya sedang sendiri...
Jadi kalau lihat ada cewek yang lagi mendongakan kepalanya menatap langit padahal nggak ada apa-apa diatas... Sapalah dia... Bisa jadi itu saya... Trying my luck! :)

2. Tertawa Itu Sehat
Siapa yang nggak setuju dengan hal ini bahwa tertawa juga bisa menularkan kebahagian dan keceriaan buat orang-orang disekitar. Saya bisa tertawa tergelak-gelak ketika mendengar joke garing sekalipun. Ketika saya duduk dibangku SD, sense of humor sudah diasah melalui pita kaset para pelawak jaman itu... Pancaran Sinar Petromax (PSP). Ini sebenernya kerjaan oom saya yang ketika itu masih kuliah. Terlalu 'vulgar' sebenarnya untuk anak di seusia saya saat itu... Seiring dengan bertambahnya umur, indra saya semakin addicted untuk mendengarkan dan melihat hal-hal lucu seperti itu... Jayakarta Group dengan Jojon, Srimulat dengan Almarhum Gepeng, Group Bagyo Cs, WARKOP, Sersan Prambors, Radio SK sampai the latest one Bagito Group.
Akibatnya, sekarang ini... Kadang saya bisa tertawa sendiri ketika ada orang lain yang sedang bercerita... Walau cerita sudah selesai hanya sampai disitu, tetapi buat saya belum... Cerita serius bisa berubah lucu dan berlanjut layaknya dalam adegan film konyol Hot Shot... Karena hal ini hanya terjadi didalam benak saya sendiri, orang yang sedang bersama saya biasanya bingung melihat saya tertawa tanpa ada sebab yang jelas. Tanda-tanda kurang 'sehat'?

3. 75% Female
Kenapa cuma 75%? 25% nya kemana? Saya tidak pernah merasa bisa seperti bagaimana wanita pada umumnya bersosialisasi. Saya nggak suka mengadakan trip ke WC bersama, saya milih tidur ketimbang harus arisan, shopping is nice tapi saya nggak pernah suka pergi belanja bergerombol dan minta pendapat ini itu dengan teman. Jadi, kalo ada yang ngajak saya belanja, siap-siap liat muka saya ditekuk 10. Gaya saya belanja adalah saya datang, saya beli, saya pulang... Cepat, tepat tapi senang.
'Martabak' pun pernah kaget ketika tau saya ke IKEA sendiri dan berhasil pulang dengan belanjaan yang besar dan berat-berat. Sebuah meja, tempat jemuran baju, beberapa box kardus ukuran besar, korden, gantungan baju, dst.
Lalu saya katakan kepada 'Martabak' yang merasa bersalah karena harus kerja dan tidak bisa ikut 'fitness' angkat-angkat...
'It is okay kok babe... Dulu yaa... Saya pernah beli TV dan dalam kondisi masih terbungkus rapi dalam box ukuran besar, saya bawa pulang TV tersebut pakai bus umum. Jangan ditanya... hampir satu bus menatap saya dengan aneh. Dan selama saya jalan pulang... Orang lihat ada box jalan. Box dan orangnya hampir sama ukurannya.'

4. 365 Hari - Ngidam!!!
Tenang-tenang... I am NOT pregnant! Hahaha! Saya dan mbak saya punya hobi snacking yang sama. Kami sama-sama penggemar mangga muda... Duh... membayangkannya saja langsung menerbitkan air liur. Sluuurrp! Dan semakin muda warna daging mangga tersebut, semakin TOP rasanya. Dengan bumbu garam dan cabai atau fish sauce dan cabai rawit. Pagi, siang, malam??? Tidak jadi masyalaahhh... Nggak perlu coklat, strawberry, roses, emas apalagi permata. Cukup mangga muda, garem, cabe dan jangan lupa... cobek-nya. Hihihi! Kebayang nggak usus saya mungkin sudah bolong sana sini seperti renda.

5. Phobia Ibu-Ibu Rambut Sarang Tawon
Anak kecil mana juga paling sebel dicubit. Naah, dulu waktu saya kecil, saya punya satu fans ibu-ibu yang hobinya menyakiti saya secara fisik dengan mencubiti pipi saya yang saat itu masih gembil. Usai pulang sekolah, dia selalu muncul didepan pintu kelas. Sampai sudah berusaha ngumpet-ngumpet untuk meghindari dia, tapi tetep aja ketawan dan habislah pipi saya setelah tertangkap. Entah kenapa, walaupun cubitannya sakit bukan dicubitnya yang saya trauma... Tapi wajah dan sosok si ibu-ibu itu yang saya nggak bisa lupa. Tubuh layaknya ibu-ibu makmur sejahtera, dengan rambut sasakan ala sarang tawon yang membuat saya benci setengah mati kalo liat ibu-ibu berpenampilan seperti ini.
It has been my nightmare... dikejar ibu-ibu berkepala sarang tawon. Hiiiiiii!!! Sekarang kalau saya bertemu ibu-ibu spesies ini... Rasanya pingin tak uyek-uyek... *awaass kualaaat*

Wokeh! 5 keanehan sudah... dan sebenernya masih banyak lagi. Tapi udah lah ya nee'... Anggap tuntas hutang saya atas Tongkat Eskampret ini yang berhasil menguak aib dan keanehan nggak penting di diri saya ini... :)

Ada yang sukarela ingin melanjutkan mandat? Hayo hayo... jangan malu-malu... Keanehan itu adalah anugerah yang membuat kita unik dan utuh sebagai manusia... (cieee ngeleesss)
Mbak Monic? Mas Windede mungkin? Atau Neng Cyan? Feel free to sign up, ok?! ;)


Posted by Fortuna at 7:10 PM || 8 comments



Suka Duka Pejalan Kaki

Disini, lampu merah, kuning dan hijau berfungsi dan ditaati sebagaimana mestinya oleh pengguna jalan, baik yang berkendara maupun bagi pejalan kaki.

Zebra Cross yang hitam putih bukanlah untuk hiasan semata seperti di kampung halaman. Guna garis hitam putih benar-benar untuk pejalan kaki menyebrang. Kadang, sampai sekarang, saya masih celingak celinguk dulu sebelum menapakan kaki di Zebra Cross ini. Padahal tanpa melakukan inipun, para pengendara disini dengan sopannya akan langsung berhenti dan mempersilahkan para pejalan kaki untuk melenggang dan melintas dengan maniez didepan mereka.

Maklum, dimana saya berasal, seringkali pejalan kaki dibuat misuh-misuh oleh para pengendara mobil, motor, bis terutama Metromini. Rasanya kok sudah berada ditempat yang tepat... Ini garis hitam putih kan??? Tetapi ketika kita berusaha melintas, boro-boro ada yang berhenti, seperti harus melawan menantang maut para pejalan kaki seperti berlomba-lomba dengan pengendara. Siapa duluan yang bisa melintas. Dia yang menang!

Bahkan untuk beberapa anak muda, melintas di jalanan yang ramai sudah seperti ajang Fear Factor, bisa sampai di sebrang sana dengan selamat rasanya seperti sebuah prestasi. Keberadaan Zebra Cross di kampung halaman sudah seperti hikayat masa lalu yang tinggal nama...

Bertahun-tahun dengan situasi seperti itu, sudah seperti tertanam diotak, dan ada saja rasa deg-deg plas ketika harus menyebrang jalan dimana saja, di negara manapun saya berada.
Udah jadi bawaan kali yee?

Minggu lalu, dalam keadaan terburu-buru, saya harus segera sampai dirumah untuk mempersiapkan kuliah di sore hari. Di suatu persimpangan samping Plaza Singapura, saya sudah menanti kendaraan yang melintas dengan tidak sabar... Siang itu, selain memang sinar matahari sangat terik, persimpangan tersebut juga ramai... Sejumlah pekerja kantor, anak sekolah dan beberapa turis tumplek- plek di mulut jalan, menanti dengan sabar sampai lampu pejalan kaki berubah hijau...
Tapi, saya, sudah nggak sabar... akhirnya setelah kendaraan yang berbelok habis dan tidak ada lagi yang melintas... saya langsung melenggang dengan pede-nya... Ternyata saya nggak sendirian… mungkin ada sekitar 5 atau 6 orang lain lagi yang ikut melintas...
Namun, baru juga sampai diujung jalan... Tau-tau... Ada sebuah tangan yang langsung memegang lengan dan menggeret saya... Saya tengok... ASTAGA!!! Polisi!!! Perempuan dan INDIAAAA...

Saya liat... bukan hanya saya sendiri... 5 atau 6 orang yang menyebrang bersama saya juga sudah berkumpul dengan muka H2C (Harap-Harap Cemas). Maklum... Negara ini terkenal gemar mengumpulkan duit dengan memberikan denda untuk pelanggaran-pelanggaran apapun.

Setelah kami dikumpulkan... Saya sempat berpikir...

Wah! Jangan-jangan disuruh push up niiih... Panas! Nggak kuat ah!

Polisi wanita itu berdiri didepan kami semua dengan sebuah buku catatan kecil di tangan kiri...

"Do you know what's the color of the lights just now??"Tanyanya dengan suara lantang.
Dan seperti paduan suara dadakan... kami semua menjawab dengan serempak…
"Reeeeeeeedddddd...." Layaknya anak TK
"Very gooooodd" Jawab si mbak polisi sambil tersenyum-senyum

Selain saya ada, business man dengan dasi dan tas lap top nya, anak sekolah berseragam dan anak kuliahan, wanita kantoran bersama gerombolan rumpinya dan juga seorang bule dengan sneakers, celana super pendek, nampaknya sedang jogging (siang bolong gitu looch???)

Setelah si polisi wanita mencatat data kami satu persatu...

"Each one of you will receive the fine statement later by mail and pay $20 for this... Have a good day..."

Good day? Huh! There goes my good meal for that day...


Posted by Fortuna at 3:05 PM || 16 comments



Happy Easter

Banyak yang bertanya-tanya, termasuk saya... apa hubungannya antara Easter dengan seekor kelinci dan egg hunting???

Pastinya ini berawal dari sebuah kultur disuatu tempat... entah dibelahan bumi sebelah mana... dan akhirnya terciptalah tradisi ini...

Ah tapi sudahlah... Kalau ingin mengurut dan mencari awal dan ujung pangkalnya ada dimana... saya juga nggak tertarik... Cukup seekor woof -woof dengan costum bunny-nya... Oooh... Just look at it... isn't it cute?!

Happy Easter semuanyaaaa... :)


Posted by Fortuna at 7:17 PM || 12 comments



Yoohoo!

Sudah jadi kebiasaan buruk buat saya.
Kalau sudah terjerumus dalam satu aktivitas pasti akan sulit menghentikannya. Browsing internet bisa berjam-jam duduk, punggung pegal dan linupun tak akan terasa.
Apalagi kalau sudah menemukan site yang menarik, bisa lupa segalanya. Terus dan teruuusss... Dan untuk menghentikan atau mengurangi frekuensinya membutuhkan keteguhan hati yang teramat sangat.
Tetapi, ternyata untuk memulainya lagi, juga membutuhkan motivasi dan keteguhan hati yang nggak kalah besar. Bingung? Sama! Saya juga bingung...

Dulu saya sering kena protes oleh teman-teman. Karena ketika jemari sudah lekat di keyboard dan mata tak bisa berpaling dari monitor, saya seperti mengisolasikan diri. Padahal banyak tawaran biasa namun tetap menarik dari luar sana. Nonton, ngopi dan ngeteh di kopitiam atau sekedar leyeh-leyeh sambil berandai-andai bersama teman.
Memang sih aktivitas nginternet ini belum menyebabkan saya sampai addict apalagi sampai sakau. Yeah right!!!

Sebenarnya rencana awal hanya ingin ber-hiatus sebentar saja. Apalagi saya adalah jenis perempuan yang hobi sharing cerita, jadi menurut theori, mana tahan berlama-lama nggak online, nggak ngeblog? Ada yang menduga saya sedang dilanda kebosanan? Wah! Dugaan tersebut ya jelas salah... Bukannya bosan, selain karena internet connection yang super duper slow di Jakarta yang akhirnya memaksa saya untuk akhirnya stop nginternet, selama saya hiatus, saya juga menemukan banyak hal yang seru. Daaaann... walaupun banyak cerita dikepala sudah sampai luber... untuk memulai blogging dan duduk didepan computer saya harus merekatkan diri dengan super glue di kursi, menarik napas dalam-dalam dan menyusun kata-kata... Focus! Focus! :)

Jadi? Ngapain aja dong selama ini???

Banyak sekali pastinya. Dari hal yang ringan seperti antar-jemput Rani sekolah, berdiskusi ngalor ngidul dengan Rani mengenai banyak hal, les bahasa Mandarin (yupe! surprise! surprise!), buat fashion collage, menata ulang kamar tidur, ketemu teman-teman lama, movie marathon, sampai hal yang lumayan berat untuk fisik dan mental, kerja di backstage untuk Singapore Fashion Festival dan menemani seorang teman dalam proses persalinan.

Satu lagi, hobi motret sudah mulai tersalurkan. Kalau dulu modalnya cuma handphone, sekarang 'martabak' berbaik hati untuk meminjamkan camera digital mininya ke saya. Haduuuhh... bisa tambah lupa waktu niiih...

Anyway...
Saya ingin mengabarkan, bahwa saya masih baik-baik saja, tak kurang satu apapun... Kalau selama ini ada message yang belum dibalas atau janji yang belum ditepati... sedalam-dalamnya saya mohon maaf :)

Just glad to be back again...


Posted by Fortuna at 4:28 PM || 6 comments



Hiiiiaaaaatttttt....Tus dulu yaa...


"Your life is a journey of learning to love yourself first and then extending that love to others in every encounter."

Cerita mengenai Sari tentunya bukan menjadi postingan saya yang terakhir...
Tapi maaf sebelumnya... Saya perlu 'hybernate' dulu...
Baru selesai ujian dan ingin pulang bertemu dengan belahan jiwa... :)

Hope to see you soon everyone... ;)


Posted by Fortuna at 2:07 PM ||



Demi Semangkuk Nasi

Hari itu rasanya semua barang pingin saya lempar, tendang, buang... Kelelahan fisik terasa sudah mencapai titik kulminasi yang sulit sekali saya toleransi lagi. Bagaimana tidak?! Sudah berminggu-minggu saya sudah seperti Budak Romusha... Pulang pagi karena urusan kantor tapi ngantornya pun juga tetep harus pagi...

Teman: 'Asik banget ya kerja kayak loe bisa ke tempat-tempat dugem...'
Saya:'Hahaha! Ya asiknya pas awal aja... Sekarang sih udah nggak kuat... Badan gue udah di hajar kanan kiri atas bawah niih... Bentar lagi rontok tau!'
Teman: 'Tapi kan loe bisa ketemu banyak temen baru kan? Masuk dunia para Fashionista... Uh uh uh! Ngiri gue...'
Saya:'Hmmm... Next time, loe gantiin gue deh kalo memang sebegitu pengennya... Lumayan juga punya assistent'
Teman:'Boleh deh... Tapi minus bikin paper work-nya yaa...'
Saya:'Terserah...'

Entah kenapa... Teman saya ini sebegitu irinya dengan aktivitas pekerjaan saya. Dan dia bukan orang pertama yang mengutarakan hal yang serupa... Masih banyak yang lain lagi menginginkan aktivitas serupa.

Sore itu, tepekur didepan monitor computer, saya mencoba menyelesaikan annual sales report. Kondisi sudah emergency, harus segera dirangkum karena memang tahun 2004 sudah hampir berakhir. Minggu depan sudah berganti angka lagi... Saya tidak punya waktu banyak... Karena malam itupun saya harus menghadiri acara promosi product yang sedang saya pegang.

Malam itu sebenarnya adalah malam Natal... Usai mengikuti misa malam Natal... Oh oh! Pekerjaan sudah menanti di sebuah club dugem yang juga baru saja dibuka... Lagi-lagi saya harus mengorbankan waktu saya untuk sebuah pekerjaan. Tentunya kalau boleh memilih, saya lebih pilih untuk tinggal dirumah... Oh well! Segara saya meluncur menuju tempat dimana pasukan promo sudah menanti kehadiran ibu cerewet... saya!:D

Sesampainya dilokasi, segera tanpa membuang waktu saya memberikan instruksi dan pengarahan ala saya... Sebenernya sih sama aja seperti 'briefing' dikantor... Hanya ingin mengulang dan mengingatkan. Maklum, kadang orang nggak bisa inget hanya lewat satu kali pengumuman kan?

Sementara karyawan beraksi, saya memilih untuk bersembunyi dibalik sebuah meja di salah satu entrance... Hanya duduk dan sambil memantau situasi... Saya lirik jam di handphone, sudah lewat jam 12 malam. Antrian manusia yang panjang, dentuman musik dengan kekuatan speaker yang membuat jantung berdegup 3x lebih kencang dan tentunya menahan rasa kantuk yang luar biasa hebatnya. Akhirnya daripada saya jatuh tertidur... Saya ikut nimbrung dengan karyawan, berpromosi ria, senyum sana sini, nyengir kuda.

Menu saya malam itu adalah bergalon-galon air putih. Yaa... Pertama saya lagi ngantuk dan saya tidak ingin 'fly' dan mengoceh 'onde brai in de brei an de brei'
Tapi hal ini mengakibatkan saya jadi sering 'beser'... Mondar-mandir WC... Dan untuk yang kesekian kali saya terpaksa mengantri cukup lama... karena memang penuh dan salah satu WC penuh dengan hasil undian yang nggak asik hadiahnya... alias 'JACKPOT'... Yuck!
Mata saya tertarik untuk melihat si mbak-mbak yang sibuk membersihkan... Dari belakang sosoknya kurus dan kecil... Rambut sebahu agak keriting freezy diikat satu. Ketika dia menoleh, yang saya lihat hanyalah peluh yang mengalir didahinya. Wajahnya tidak menyiratkan kesan apapun... FLAT! Entah apa yang ada dibenaknya saat itu...

Aahh... Lega! Cukup panjang juga tadi antriannya... Sambil mencuci tangan, sedikit membasahkan mata yang sudah mulai berkantung, memandangi wajah yang kusut masai di cermin... Sementara disamping saya 2 wanita terlibat pembicaraan 'serius' mengenai laki-laki yang baru mereka kenal ditempat itu, di pojok belakang duduklah si mbak kriting sambil memegang sapu layaknya penjaga WC yang menanti 'kejadian' selanjutnya. Badannya memang kecil dan wajahnya tidak seperti mbak-mbak penjaga ditempat lain... Yang ini masih belia...

Saya: 'Boleh minta tissue nggak mbak?'
Mbak:'Adanya tissue ini...' Sambil menyodorkan tissue gulung kepada saya... Suaranya jelas menunjukan dia masih kecil...
Saya: ' Nggak apa-apa... Ini juga boleh deh... Mmmm... udah berapa lama mbak kerja?' Tanya saya sambil mengelap sisa-sisa air ditangan.
Mbak: 'Baru satu minggu...' Menjawab dengan muka was-was dan heran. Entah mungkin dia bingung ada orang yang ngajak ngomong...
Saya: 'Nama mbak siapa?' Tanya saya lagi dan kali ini saya benar-benar ingin tahu...
Mbak: ' Sari' Jawabnya dengan suara yang masih pelan
Saya: 'Saya Fortuna' Sambil menyodorkan tangan saya... Sari membalas menjabat tangan saya walau tampak ragu-ragu 'Saya juga lagi kerja disini... Tapi cuma untuk malem ini aja...'
Sari:'Ooh... Mbak yang pasang poster didepan pintu itu ya?'
Saya:'Ya betul! Seratus buat kamu!' Jawab saya dengan gaya juri Cerdas Cermat... Entah lucu dimana... Tapi nampaknya saya membuat si Sari ini tertawa... Tampaklah deretan giginya yang kecil dan agak jarang...
'Kok kamu bisa kerja disini Sar?'
Sari tertegun dan sempat terdiam...
Sari: 'Saya kan anak paling tua... Saya masih punya adik banyak... Dan orangtua saya juga nggak punya kerja mbak... Jadi, saya yang kerja... Ditawarin kerja sama 'uak' saya yang udah duluan kerja disini'.
Saya:' Memangnya kamu umur berapa sih Sar?'
Sari:'15...'

Sudah saya duga... Anak ini masih belia... Dan nggak seharusnya dia berada disini... Jam segini pula... Yang saya lihat diwajahnya hanyalah wajah seoarang anak-anak... Bagaimana kalau anak saya yang bernasib seperti dia?

Jam sudah menunjukan pukul 3 lewat, sementara musik masih berdentum kencang, asap rokok dan wajah-wajah sayu dengan aliran alcohol didalam darah mereka berkeliaran keluar masuk club, berpindah ruangan, membuang hajat dan seterusnya...
Sebuah pemandangan yang tadinya cukup biasa buat saya... namun kini menjadi sangat luar biasa... Luar biasa untuk seorang teman baru saya yang bernama 'Sari' yang saya yakin... tidak ada dari mereka yang tahu menahu... or most probably... tidak mau tahu...

Sari... dimanapun kamu sekarang... semoga kamu tidak patah arang, semoga kamu berada disuatu tempat yang aman. With your 'nothingness', you've given me more than you could possibly ever imagined. Terimakasih untuk menyadarkan saya... Everything that you did... Semua hanya demi semangkuk nasi... demi bertahan untuk bisa terus hidup...

FYI, club tersebut terpaksa ditutup karena terjadi sebuah penembakan di malam Tahun Baru, 1 minggu setelah pertemuan saya dengan Sari.
Thanks to Rita... Yangpostingannya, mengingatkan saya akan kejadian tak terlupakan di malam Natal yang lalu...


Posted by Fortuna at 1:30 PM || 8 comments



Pick Up Line

Sore tadi, saya memutuskan untuk 'absen' ke sebuah group pertemanan yang sudah lama tidak saya kunjungi.
Ternyata, seorang teman dari kampus, sebut saja si Tini, ingin ikut menemani. Alasannya, sedang tidak ada kegiatan.
Jadilah saya dan Tini pergi bergabung bersama teman saya yang lain.
Perlu diketahui, Tini adalah cewe berdarah Indonesia campuran... Sebutan kerennya adalah cewe Indo or Euronasian. So sudah dipastikan cuaantik.

Kebetulan group yang saya temui sore ini hampir semuanya bergender laki-laki dan single. Wah, sebenernya sudah bisa diprediksi dari awal, kira-kira apa yang akan terjadi jika saya membawa Tini yang aduhai ini ke tengah mereka.
Dan benar saja, ketika saya muncul dan menggandeng Tini, semua wajah pria-pria single ini seperti terhipnotis... Ujang, Wawan, Dodi dan Tono. Walau tidak secara jelas namun bahasa tubuh mereka tidak bisa menipu. Cukup dapat terbaca akan adanya maksud dan hasrat yang lain.

'Hallo... Nama kamu siapa?' Tanya Tono dengan nada super ramah tapi artificial
'Tini...' Jawab Tini sambil menyambut jabatan tangan Tono
'Namanya bagus juga ya, seperti orangnya... Kamu orang apa?' Tanya Tono lagi masih dengan nada yang mendayu-dayu.
'Uh? Maksudnya?' Tanya Tini sambil pasang muka heran.
'Enggaaaaak... Maksud saya, asli Indonesia atau ada campurannya?' Ujar Tono sambil diiringi tawa yang menurut saya ketawan banget dibuat-buat.

Tini tidak menjawab, respond nya hanya berupa senyuman yang diarahkan kepada saya...

'Yang pasti sih Indonesia lah Ton. Dari tadi juga loe ngomong pake bahasa Indonesia dia juga ngerti kok' Samber saya dengan agak sedikit gemas.
'Ayah saya memang ada keturunan sih' Jelas Tini dengan perlahan...
'Oh ya? Turunan keraton ya?' Tanya Tono lagi dengan muka serius...

Ya ampun! Saya benar-benar nggak ngerti, kenapa teman saya Tono ini mendadak sontak playing dumb begini?! Saya tau Tono yang asli nggak seperti Tono yang malam ini saya lihat. Ya oliiiiiiiiiiiii... Saya hanya bisa membatin...
Sementara Tini hanya menggeleng sambil wajahnya menatap bingung ke arah saya...

'Bapake londoooo... Ora Keratooon... saiki ngertos ora?' Jawab saya dengan logat Jawa yang sengaja saya medok-medokin.
'Pantesaaan bisa putih beginiiiii...' Samber Tono sambil berdecak kagum menatapi Tini
Tini yang terlihat risih dan Saya hanya saling berpandangan... Entah apa yang ada dibenaknya, tetapi Tini terlihat sangat tidak amused dengan saudara Tono tadi.

Sementara saya, Tini dan Tono masih terlibat dalam acara kelas Drama 101, Ujang, salah satu dari mereka ikutan bergabung dan setelah Tini dan Ujang bertukar nama dan jabatan tangan...

'Kamu satu kampus dengan Fortuna?' Tanya Ujang
'Iya...' Jawab Tini

Dan tanpa saya duga kalimat selanjutnya tiba-tiba Ujang berujar...

'Di kampus, banyak yang seperti kamu nggak?? Kayaknya gue harus sering 'absen' ke kampus loe nih... Banyak yang potensial...' Kata Ujang sambil menatap Tini lalu mengalihkan pembicaraan kepada saya...
Saya, malam itu speechless...

Percakapan diatas hanyalah sekelumit dari apa yang terjadi sebenarnya dan saya tidak memiliki kekuatan untuk menceritakannya. Terlalu aneh dan terlalu 'enggak banget' untuk disampaikan disini...

Akhirnya setelah beberapa lama, waktunya Tini untuk pamit... Dan dengan segala cara, para pria cap Kaki Kambiang ini berusaha menahan kepergian Tini. Bahkan ada yang menawarkan dirinya untuk menemani Tini pulang... Yang tentu saja ditolak dengan halus oleh Tini. Lah, wong baru kenal kok udah main nganterin pulang aja?!
Setelah Tini pergi dan hilang dari penglihatan... Saya di interogasi... Mengenai apa lagi coba??? Ya pasti tentang si Tini teman saya yang cantik ini...

Tono: 'Udah punya cowok belum dia?'
Saya: 'Belom'
Ujang: 'Wah asiiiikkkk'
Tono: 'Boleh juga tuh... Harus sering-sering ditemenin.'
Dodi: 'Minta nomernya dong!'
Saya:'Enggak'
Wawan: 'Temen loe dong yang lain dibawa kemari...'
Tono: 'Kapan ada acara kampus loe? Kita-kita mau loh dateng...'
Dodi: 'Iya... Apalagi kalo ada fashion show... Gue pasti dateng!'

Kata Dodi sambil disambut dengan nada setuju oleh yang lain....
Saya sendiri hanya menjadi pemerhati kelakuan teman-teman saya malam ini... Rasanya nggak yakin saya bisa dan mau membawa teman-teman wanita saya yang lain ketengah-tengah mereka. Lah, cara mereka itu loh yang saya nggak tahan...
Conversation ala Drama TVRI atau perbincangan ala film tahun 80'an nya itu yang menurut saya terlalu fake. Masa sih tidak ada cara lain yang lebih 'suitable'?

Coba deh, saya mengundang para sahabat dan yang numpang lewat, terutama yang pria... Jika anda dihadapkan pada situasi yang sama dengan teman-teman saya tadi, berhadapan dengan wanita yang baru dikenal dan anggaplah anda masih berstatus single, kira-kira kata-kata apa yang akan ada ucapkan untuk menarik perhatiannya? What would be your best pick up line or lines? Keluarkan jurus sakti anda...

Dan buat yang perempuan, pernah nggak punya pengalaman yang serupa atau malah the other way around? Dihadapkan dengan pria yang sungguh sangat membuat anda bernafas kembang kempis karena terpesano... eh... terpesonaaaa... ;)


Posted by Fortuna at 2:49 AM || 21 comments



Bablas

Tenang... tenang... Ini bukan photo orang pingsan kok...
Photo ini saya ambil ketika berada di MRT dari Choa Chu Kang menuju Dhoby Ghaut...

Perjalanan naik MRT ini ternyata sangat lama... Apalagi, kalau saya hitung-hitung... ada 18 setopan... dan untuk keseluruhannya, memakan waktu hampir 1 jam...

Udara di luar sedang dingin karena hujan. Begitu juga di dalam MRT, udara AC yang dingin berhembus menusuk merasuk ke dalam tulang. Entah kenapa, MRT sore ini tidak terlalu ramai... Coba kalau ramai kan tidak harus sedingin ini.

Well... Jangan salahkan kalau sebagian besar penumpang banyak yang tidur... dengan style dan gayanya masing-masing... aneh-aneh pula...
Saya sendiri berusaha keras supaya tidak jatuh tertidur... Apalagi saya nggak jago tidur pake gaya... Tidur buat saya adalah lurus ditempat tidur atau lantai (bangun bisa sakit2) atau bisa juga merebahkan kepala di atas meja... naahh ini gaya SMA banget... Hihihi! Tapi saya nggak akan bisa disuruh tidur sambil berdiri, duduk (tanpa sandaran untuk kepala), pasti kepala saya bisa langsung kejedot sana sini.

Ada juga yang buat saya takut tidur di tempat umum, apalagi di public transport kayak begini. Dulu waktu jaman SMA, saya pulang sekolah naik bus PATAS no.12 dan selalu turun depan Sarinah Thamrin... Ternyata, suatu siang... ketika saya mebuka mata... bis ini sudah bablas sampai di Gajah Mada... Serta merta saya melonjak kaget... Karena tempat saya turun udah kelewatan dan jauh pula...
Huh... dengan menahan sisa kantuk dan iler yang masih menempel... terseok-seok saya turun dari bus dan mencari bus lain untuk menuju arah balik ke Sarinah lagi...

Naaahh... kalo mas yang satu ini? Gimana?
Feeling saya mengatakan, dia akan bablas juga seperti saya... Karena MRT sempat mengalami turbulance...(ada ya di darat?) si mas ini ternyata tetep 'menganga' dengan indahnya... sampai saya turun pun... posisi nya tetap tidak berubah...

Coba ini di Indonesia... ada laler masuk kan nggak lucu...
*nnnggeeeeeeeennnggggggg.... glek!*


Posted by Fortuna at 3:18 AM || 17 comments



Everything About India *almost*

Mengawali suatu pagi di hari Minggu...

Martabak: 'I feel like curry today...'
Me: 'Maksudnya kari India?'
Martabak: 'Yes... '
Me: 'Nggak salah??? Yang lain aja deh...'
Martabak: 'Why not...??? Kita belum pernah having real Indian food... Selama ini yang kita makan hampir Oriental semua.'
Me: 'Mmm... Ya udah kita ke Bugis Junction aja...'
Martabak: 'I was thinking 'Little India', Mustafa area... '
Me: 'Bugis aja... Kan ada food court...' Kata saya setengah memaksa.
Martabak: 'Food court? Mana enak? Karinya nggak real...'
Me: 'But... I don't like curry...' (dengan wajah memelas)
Martabak: 'Hahaha! So that's why... Why didn't you say so? Actually, they have various type of cooking style. Nggak semua curry kok... Ada yang di grill juga... C'mon... Just try... You'll love it...'

'Aaaarrrggghhh nggaaaaaaaaak maaauuuuuuuuuuuuuu!!!'

Harap maklum lidah saya lebih bisa bersahabat dengan makanan-makanan Oriental seperti Chinese, Korea, Jepang, Thai, Vietnam... Apalagi dalam kondisi lapar, saya pasti cari makanan yang bisa mengenyangkan perut dan memuaskan hati. Ya, saya memang picky...
But my posting this time is not about food, not exactly...

Saya nggak mau dibilang rasis... Karena memang saya merasa saya nggak rasis. Saya nggak bermasalah berteman dengan siapun dari suku, ras dan bangsa manapun. Tapi dari dulu saya punya kecenderungan untuk menghindari segala sesuatu yang berbau-bau India dan daerah sekitarnya.

Begini ceritanya...

Sewaktu saya lahir, hampir semua oom dan tante sudah melihat adanya bakat dari wajah saya untuk menjadi seorang anak orang India.

'Ini bayi kok lebih cocok jadi anak India ya?' kata salah seorang dari mereka
'Iya bener juga ya... coba liat deh mukanya...' balas yang lain
'Masa muka isinya cuma mata doang... saking belo' nya' komentar yang lain lagi
'Item pula lagi kulitnya...' sambar yang lain

Untung saya masih bayi jadi masih bisa EGP ABC. Coba kalo saya bisa ngomong saat itu juga, mungkin saya marah-marah sambil cabut-cabut rambut dikepala kali ya? Hiiii! Kayak Chucky!
Bayangkan, sedari kecil, saya sudah jadi bulan-bulanan mereka. Tapi seiring dengan bertambahnya usia dan kecepatan otak dalam mencerna sebuah kalimat, rasa sensitif semakin terasah ketika permasalahan muka dan mata saya yang belo' ini diungkapkan dalam acara-acara keluarga atau kesempatan lainnya sekalipun. It wasn't sound like they were embracing or complementing my looks... It was more like degrading my existence as a child... Bener deh! Seperti ditusuk belati... aiiih hiperbolanya...

'Kamu tuh sebenernya bukan anak mami kamu... Karena kamu tuh ketuker di RS' Kata tante.
Saya sok cuek dan main sendiri, walaupun kuping tetap pasang radar.
'Kebetulan waktu mami kamu melahirkan, disamping mami kamu ada orang India juga yang melahirkan.' Tak peduli saya yang asik sendiri, tante saya terus saja asik mengarang cerita tentang saya versi otaknya.
Tentu saja, karena ucapannya ini disampaikan saat sedulur yang lain juga sedang berkumpul, kalimat ini mengundang derai tawa para pendengar yang lain.

Huh! Betapa mangkelnya saya waktu itu... Dan karena saking seringnya saya jadi bahan ejekan... Saya jadi mengambil sikap untuk anti terhadap segala sesuatu yang berbau-bau India. Ya makanan, ya film, lagu, baju... apaan aja deh...

'Eh si Item India... Kamu seharusnya cocok mangkal di Pasar Baru jual kain.' lagi-lagi lontaran dari mulut salah seorang dari mereka.

Saat itu rasanya tidak saja saya menjadi sedih tapi sekaligus geram. Diam-diam saya suka menangis. Apalagi saya memang bukan tipe yang mudah untuk bersilat lidah. Biasanya, saya hanya pasang muka kursi lipet dan air muka yang masam dan tak menghiraukan kata-kata dari pihak-pihak yang menghibur saya. Mungkin pada akhirnya mereka sadar, bahwa saya sudah mencapai batas kesabaran. Karena saya selalu diam seribu bahasa jika bertemu mereka. Cieeeh anak kecil aja bisa mogok bicara! Hahaha! Such a drama queen nggak sih?

Ketika di usia remaja, saya sudah mati rasa dengan olokan, ejekan dan lontaran kata-kata sejenis. Tapi, di otak saya, sudah terdoktrin berkat stimulasi bertahun-tahun yang menjadikan saya seorang yang anti India.

Beberapa tahun yang lalu, ketika film India booming, mana mau saya lihat TV apalagi nonton film Indihe ke bioskop. Huaah... ogah ogah... Mana waktu itu, seorang teman dekat jadi getol banget nyanyi lagu-lagu Indihe dari Kuc Kuc Hotahe? Bener nggak nulisnya?
Kebetulan teman tersebut sedang belajar Tata Busana dan pengaruh India tidak saja merasuk dalam kesehariannya tapi juga hasil rancangannya. Astagaaaa... Sambil menyanyikan salah satu lagu dari film Bollywood, teman saya menggoreskan rancangan baju Sari berikut asesoris tetek bengek nya...

Sekarang, setelah saya pikir-pikir lagi, sekeras-kerasnya saya berusaha untuk menjauh dari India... Ternyata kehidupan saya semakin dihiasi dan dikelilingi oleh segala sesuatu about India.
Coba ya... Waktu melahirkan, dokter yang menangani adalah seorang wanita keturunan India. Cantik dan baik hati. Roommate saya dulu juga orang India... walau ada kesalahan saraf, tapi dia tetap baik hati pada saya, saya sering diajak makan bersama dengan keluarganya. Bahkan saya pernah didandani ala gadis India dengan Sari dan perhiasannya. Menatap diri didalam kaca... Rasanya tak percaya, wajah saya benar-benar menyatu dengan sempurna dengan kostum yang saya kenakan pada saat itu. Bahkan, saya pernah didaulat untuk menari Bali di acara Komunitas India di Amerika. Ketika acara selesai, bak primadona dari Calcutta saya menjadi pembicaraan para cowo' India disitu...

'Gimana ayamnya? Enak nggak?' kata Martabak membuyarkan lamunan saya yang sedang menikmati sepotong ayam Tandoori.
'Hmmm ok laah... ' Jawab saya biasa, padahal dalam hati... 'ajegile endang bambang ni ayam. '

Martabak:' Anyway... Jadi hanya karena itu kamu jadi anti India?' tanyanya penasaran
Me:'Iya... Simple kan?'
Martabak:'Sekarang udah enggak dong...'
Me:'Iya agak masih sedikit... Suka nggak tahan kalo denger lagu India... Don't know why... Ya semoga nggak keterusan siiih...' kata saya lagi menjelaskan
Martabak:'Now you know... You can't run away from it babe. You named your daughter Maharani, which is very much an Indian name and you call me Martabak in your blog... also sounds very Indian to me. It is rooted in you now... Like it or not whether you realize or not...' Timpalnya panjang lebar
Me:....

Ya, saya tidak terlalu menggubris apa kata Martabak karena saya sedang sibuk menikmati Chicken Tandoori yang aduhai rasanya.
Sekarang hampir tiap malam saya suka mencuri waktu ke kedai seberang untuk menikmati Prata Banana yang sungguh sangat nyumiiie...
Martabak saya ini juga ternyata bisa loh nyanyi lagu India walau hanya satu. Saya lupa judulnya apa. Tapi suara tenornya bisa persis kayak penyanyi India beneran dan bahkan berhasil menstimulasi senses saya akan lezatnya Ayam Tandoori yang pernah saya nikmati...

So... Siapa bilang saya nggak suka India??? Hehehe!


Posted by Fortuna at 12:47 AM || 13 comments



Thaipusam

Mungkin sekitar 2 minggu yang lalu, tepat didekat saya tinggal terjadi sebuah kehebohan. Bukaannn... bukan kerusuhan kok. Ini Singapore gitu looh. Mana ada kerusuhan? Hanya ketika sekumpulan orang Indonesia berkumpul, disitulah kerusuhan lebih mungkin akan terjadi. Beneran! Orang kita, kalau sudah ngumpul, suaranya udah ngalahin toa.

Anyway, saya katakan heboh, karena memang saya lihat jalanan dipenuhi oleh manusia, penuh dekorasi dan bunyi-bunyian dari jam pagi-pagi sekali. Dan ini berlangsung selama 2 hari berturut-turut.

That's right! Pagiiiiiiiiiiiiii sekali, dari jendela kamar, saya lihat kerumunan orang disepanjang jalan protokol untuk menonton atraksi dari segerombolan orang yang terus menerus muncul dan berjalan/convoy ke arah yang sama. Ada yang pake baju biasa saja dan ada juga yang seperti pakai costum carnaval. That's what I saw from the distance. Walaupun warna-warni, warna yang paling mencolok adalah kuning. Persis seperti warna salah satu partai berlambang pohon keramat di Indonesia. Mereka ini membuat keributan yang mengakibatkan saya terbangun di jam yang terlalu pagi buat saya... Astaga... Baru jam 5... Ini orang-orang ngapain sih?

Saking penasaran, saya turun dari 'khayangan' lantai ke-7, nggak pake mandi. Cuma cuci muka dan sikat gigi. Hihihi! Penasaran euy! Ada apakah gerangan???
Menyelinap diantara manusia dan berusaha berdiri paling depan adalah hal yang mudah buat saya. Karena memang tubuh saya mungil... Handphone saya siapkan untuk membidik apa saja yang menurut saya menarik untuk dibidik dik! Pagi-pagi mau jadi wartawan. Wartawan bau iler... Hiiiiiii!

Sesampainya ke posisi depan, saya terperangah...
Mata saya tak bisa berkedip menatap beberapa orang yang berpakaian kuning-kuning, dengan atribut yang bisa dikatakan aneh. Dan yang benar-benar membuat saya merinding dan ngilu adalah pemandangan body piercing. Atribut aneh itu tidak saja diusung dengan tangan oleh satu orang, tetapi juga diTUSUKan ke badan. Yupe! Seperti nonton debus.
Ada yang ditusukan tembus dari pipi ke pipi, ada yang ditusuk lidahnya... Pokoknya... semakin banyak yang ditusuk kayaknya semakin canggih.
Anehnya, tidak berdarah dan mereka tidak keliatan kesakitan... Malah, jika ada penabuh gendang... Mereka ikut menari dengan gerakan yang cukup heboh.
Tidak hanya laki-laki, tetapi ada juga yang perempuan, walaupun mereka tidak ikutan mengusung kostum parade yang segede gaban. Biasanya hanya kendi yang mereka letakan diatas kepala. Tapi teteeeeppp... lidah menjulur keluar dan ada tusukan konde menancap disana... Oh mi got!

What's going on?

Singapore has a substantial Hindu community. About 6% of its population are Hindu.
The Hindu people are intense about their religion, and take some extraordinary measures to display their devotion.
Today is a good example is the THAIPUSAM festival.
According to my investigation :) Thaipusam is the feast for the son of Shiva, Lord Subramaniam. (Siapa ya nih? Baru pernah denger) It's celebrated annually, in January or February.
Again, katanya si Lord Subramaniam is the universal granter of wishes. Wow!
All those who wish to ask for a future favor, fulfill a vow in return for a granted favor, or to repent for past sins will participate in this festival.

Bayangkan, setiap orang berjalan kiloan meter dari sebuah Temple di dekat Little India dengan membawa offering masing-masing. Ya... yang ditusuk-tusuk itu tadi. Many raised the stakes by entering a trance, and piercing their bodies with skewers.

Saya ikuti prosesi orang-orang yang sedang trance ini. On the way up the street, I saw a man hobbling along.
"That guy's got a problem,"
"Yeah, he's got a problem, all right,"
"His shoes are made of nails!"
Sure enough, his shoes were made of nails. Each shoe had a wooden base, with about 60 to 100 nails sticking up out of the base. The nails look old and rusty. Aduuuuuhhhh nyaaiiiii! Sakit atuh!

I passed the nailman, and followed the procession to the Hindu Temple. There I found hundreds of people waiting to enter the temple with their offerings. We found a spot on the temple steps, just as the sun was rising, and watched the participants.
Each person showed devotion in a different manner. I saw a lot of shaved heads and more number of pierced tongues and cheeks. Some men hung fruit from their flesh with fish hooks, giving the effect of a human Christmas tree.
In lesser numbers, I saw trance dancers, swaying to the beat of musicians in religious ecstasy. At one point, screams emerged from the temple entrance and I turned to see a man submitting himself to a belt whipping. His partner then brought out a four inch thick rope, to increase the pain (and devotion). Temple officials quickly interrupted that effort. It is possible to have too much of a good thing, I guess.

Of course, not all Hindus find it necessary to go to these extremes. Many are content with a simple offering from the heart.

But still! It looks so painful just by watching them...
Enough... I remembered I haven't taken a shower... Gotta go home.
And that's how I devoted my self to the divine, taking care of my self biar bersih... :) hihihi! Giling! Emangnya gue sate, ditusuk-tusuk!


Posted by Fortuna at 6:15 PM || 11 comments



Sumringah

2 hari yang lalu saya berkesempatan pergi bersama 'martabak'... Ya, begitulah saya menjulukinya... Seseorang yang saat ini sering muncul dalam keseharian saya... Kehadirannya sangatlah special buat saya, just like martabak... martabak spesial.

martabak: What's for today?
me: Ok, we go to the library because I have to finish up my study and if you want we could borrow some books for you to read. Coz you don't want to watch me reading, right?!
martabak: Ok... I'll borrow some books. Hmm...Wanna study around Arab Street, instead? They have some nice little cafes or restaurants there. Perhaps it would be better for us... You can study and drink tea at the same time... And I think you still have that runny nose right?
me: * snif snif* You are right! Ok deh! Sounds good to me!

Sepanjang perjalanan dari rumah ke library, lalu ke Arab St. Saya perhatikan ada beberapa wanita yang menggenggam sekuntum bunga sampai dalam bentuk bouquet. Wajah mereka berseri-seri... Apalagi ketika sang pacar memberikan senyuman maniez dan kecupan mesra.

me: What day is it now? (sambil sibuk membetulkan tas selempang yang keberatan karena isi buku)
martabak: Tuesday, why?
me: nothing... What date is it then?
martabak: 14
me: i see... no wonder...(sambil memperhatikan pasangan-pasangan yang lewat)
martabak: It is Valentine's day...
me: yeah... I completely forgot... (setengah berbisik)
martabak: What's that?
me: mmm... nothing kok...

Lebih dari 4 jam saya dan 'martabak' duduk di sebuah cafe kecil di Jalan Haji Lane... Suasananya mengingatkan saya akan Gang Senggol di Jakarta. Hanya muat untuk lewat 1 mobil.
Saya perhatikan 'martabak' saya masih asik membaca buku philosophy nya... Uh! Bacaannya berat!
Sesekali tangannya menggapai Potato Wedges di atas meja, memasukan bongkahan kentang dalam mulutnya, lalu membetulkan kacamata nya yang melorot di hidungnya.
Pikir-pikir, apa sih yang special dari orang ini? Romantis? Enggak juga... Dilihat dari penampilan? Dandy? Amit-amit, untung enggak. Saya paling nggak suka liat pria gaya dandy perlente. High maintenance! Cakep? Biasa aja lah...

Lagi tengah berpikir, tiba-tiba dia menatap mata saya... Wah! Kagetnya! Ketawan banget saya yang sedang memperhatikan gerak-geriknya.

martabak: yes? you feel allright? (menutup buku dan meletakannya di meja)
me: eeng eh... iya ya... cuma agak mampet hidung... itchy nih *srooot srooot*

martabak hanya melihat cangkir teh saya yang sudah kosong...

martabak: ok... let's order one more (celingak celinguk mencari waiter)

karena si waiter nggak muncul-muncul, akhirnya 'martabak' pilih untuk mencari langsung ke dalam. Ya, kami berdua duduk di bagian luar cafe, jadi agak sulit terpantau langsung dari dalam cafe.
Tak lama kemudian si waiter akhirnya muncul dengan secangkir teh. Tapi dimana 'martabak'? Kok nggak balik? Wah! Nggak lucu nih...
'Sialan! Jangan-jangan gue dikerjain... Ditinggal dan disuruh bayar semuanya. Rese!' pikiran ngawur saya langsung muncul.

Lalu, saya coba telpon, tapi nadanya tu la lit melulu.

Tau-tau, sosok familiar itu muncul dari kejauhan. Dengan membawa satu kantong plastik...
'Astaga! Gue ditinggal belanja! Sialan bener sih ni orang!'

me: Where were you?
martabak: Here... (sambil mengeluarkan isi kantong plastik) Drink them all... before you go to bed tonight... You need to rest as well...
Let's finish our dinner and then I'll take you home... Don't force yourself, okay...(sambil menepuk-nepuk kepala saya, seperti saya masih 5 tahun saja)

Isi kantong plastik hanya ada obat-obatan dan beberapa kotak soup instant. Ya, saya sudah 2 hari sakit flu (nggak pake burung). Dan orang ini udah ngebela-bela in pulang kerja, dalam kondisi cape', menemani saya belajar. Kegiatan yang sangat tidak romantis. Dan memperhatikan saya yang lagi sakit.

Memang tidak pernah menyinggung soal Hari Valentine's Day dan perayaannya. Tapi yang pasti, buat saya hari itu menyenangkan... dan sangat special. Se-special martabak!!!

Sekarang boleh dong giliran saya yang sumringah... :)


Posted by Fortuna at 2:13 PM || 18 comments



Boo!

Waktu menunjukan bahwa hari sudah semakin sore. Di verandah sebuah rumah, seorang wanita muda terlihat sedang sibuk mengejar seorang anak perempuan yang masih balita. Dibujuknya si anak agar mau membuka mulut dan menyantap makanan yang disiapkannya.
Kebetulan ibu sang anak sedang tidak dirumah. Hanya ada perempuan muda tersebut, seorang pembantu dan si anak kecil itu tadi.
Rumah kontrakan berukuran kecil dan terlihat sedikit gelap. Di depan rumah tersebut ada satu pohon besar yang rindang dan selalu bergemerisik ketika angin berhembus...

Wanita muda: 'Coba Aaaaa... Ayoooo... buka mulutnya...' katanya sambil berusaha untuk terus bersabar membujuk si krucil ini.
Tetapi yang dilihat si anak malah sibuk berlari kian kemari dan tiba-tiba, dilihatnya si anak diam tak bergeming, seperti menatap sesuatu dan perlahan si anak berjalan seperti ada yang menuntunnya... Wanita muda itu terlihat agak bingung melihat perubahan dan gerak gerik si krucil.
Wanita muda: 'Eeeehhh mau kemana? Makanannya kan belum habis. Yuk dihabiskan dulu... Jangan lari-lari'
Krucil: 'Enggak... Ada nenek... Mau ikut nenek' sambil berjalan masuk ke kolong meja...
Wanita muda: 'Ah ngaco kamu ngomongnya... mana ada nenek?' dengan nada yang bergetar...
Krucil: 'Tu neneknya...' sambil menunjuk kesebuah arah yang kosong...
Wanita muda itu mendadak lemas dan bulu kuduknya berdiri...

Sepenggal cerita 'true story' yang pernah saya alami. Sayalah si gadis kecil itu dan wanita muda tersebut adalah tante saya yang kebetulan memang tinggal satu rumah. Ya itulah pengalaman pertama saya melihat 'sesuatu', the unexplainable. Dan jujur! Pada saat itu saya tidak merasa takut... Mungkin karena masih kecil dan belum mengerti ya?
Masih banyak lagi yang saya alami di rumah kontrakan itu... Suasana yang selalu mencekam di loteng atas ataupun disebuah gudang sempit dekat loteng. Kamar tamu di bagian depan rumah yang selalu dingin seperti menyimpan misteri. Masih lekat semuanya terekam di memori saya.

Namun, tidak sampai 5 tahun kami menempati rumah tersebut. Kami harus pindah kerumah lain dan kali ini sudah bukan kontrakan... yeeiiiy...
Lagi-lagi, dirumah inipun saya sering mengalami hal-hal yang kurang lebih sama seperti dirumah kontrakan dulu...

Suatu siang, saya melihat seorang anak laki-laki kecil duduk menghadap piano... Kebetulan, saya sedang berada disebuah ruang lain yang menghadap kearah piano tersebut... Lalu saya beranjak untuk melihat siapa si anak kecil ini... Kebetulan memang kami sering dikunjungi anak tetangga yang bernama Mumu.

'Mu? Itu Mumu ya?' kata saya sambil berjalan ke arah piano...
Namun belum sempat saya sampai mendekati piano... anak laki-laki itu beranjak dan lari menuju ruang depan... cukup cepat larinya... dan saya karena penasaran terus mengikuti ke arah depan sampai berpapasan dengan seorang pembantu.

Pembantu: 'Ada apa mbak?' tanyanya sambil menatap heran ke wajah saya
Saya: 'Mumu lagi main disini ya?'
Pembantu: 'Enggak mbak... Jam segini kayaknya Mumu masih tidur siang deh'
Saya:... (diam tak bersuara)

Bertahun-tahun kemudian, sepulangnya saya ke tanah air, saya menetap di sebuah apartemen dibilangan perbatasan Jakarta Barat dan Selatan. Sebuah gedung kokoh bergaya kuno. Kalau teman saya bilang, seperti Istana Cinderella.
Apartemen bergaya kuno ini memiliki lorong-lorong yang berbentuk melengkung dan bila siang hari selalu remang-remang karena hanya mengandalkan sinar matahari yang masuk melewati jendela berukuran besar yang jumlahnya terbatas.
Setiap pintu masuk unit berwarna gelap dengan jenis kayu kokoh berukir. Nuansa kolonial.

Hampir 6 tahun saya tinggal disana dan ada beberapa kejadian yang saya masih ingat...
Entah kenapa, saya paling tidak suka berada di dapur berlama-lama. Karena selain memang sumpek (dapur apartemen ukuran pas-pasan), suasana gelap didapur juga membuat saya kurang bersemangat untuk masak dan melakukan kegiatan perdapuran.
Design dapur tersebut sebetulnya cukup menarik, karena 'open' tidak bersekat dan memiliki jendela besar yang menembus ke living room. Semua orang yang didapur pasti terlihat dari living room dan juga sebaliknya.

Dulu, saya sering sekali mengetik malam-malam. Kebetulan computer diletakan di living room. Kenapa saya memilih kerja malam-malam? Pertama, saya adalah orang yang lebih bisa aktif dimalam hari. Kedua, suasana yang tenang lebih membantu saya untuk bisa berkonsentrasi.
Dimalam-malam saya bekerja itulah, saya sering merasakan, bahwa saya tidak sendirian. Bolak balik, ujung mata saya sering menangkap ada sekelebat sosok berdiri di ruang dapur. Tetapi setiap kali saya menoleh, sosok itu hilang.
Pikiran saya, selama dia dan saya tidak saling mengganggu, I should be allright. Walaupun kadang jantung saya suka berdegup kencang, tetapi saya selalu berusaha terlihat setenang mungkin dan kadang sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Mengusir rasa takut.

Suasana masih sunyi, jam menunjukan pukul 2 pagi dan baru saja saya selesai mengetik paragraph yang kesekian... tiba-tiba... keran air di dapur terangkat sendiri dan air mengucur keluar dengan derasnya. Padahal tidak ada satu manusiapun diruang itu.
Serta merta saya melonjak kaget, namun anehnya saya tidak ngibrit lari tunggang langgang... Buku yang saya pegang saya lempar ke arah dapur dan sambil berjalan ke arah dapur, saya marah-marah sendiri...

'Brengsek! Hayo! Kalo berani keluar sini!' sambil mematikan keran

Antara percaya dan nggak percaya memang. Tetapi saya mengalami sendiri kejadian-kejadian ini. Mau dibilang mereka nggak ada... tapi ternyata ada...
Untung kemampuan saya tidak secanggih orang-orang lain. Nggak pingin malah... Nanti kayak teman saya... Pinginnya punya talenta bisa menyanyi kayak Joy Tobing, jadi superstar... Tapi apa daya, talenta yang dimilikinya justru melihat yang kayak begini... super juga... tapi supernatural. Karena mentalnya belum siap... teman saya selalu jatuh pingsan ketika melihat 'sesuatu' ini...

Lagi bertamu... tau-tau *GUBRAK*... yaaaaa... dia pingsan...
'Oom, tante maaf yaaa... temen saya emang suka takut sama piaraan rumah'
Sementara yang punya rumah bingung...
'Perasaan nggak ada anjing atau kucing deh... adanya cuma Adam si Beo...'


Posted by Fortuna at 10:01 PM || 19 comments



Bosan Adalah Pilihan

Pernahkah anda dilanda suatu rasa bosan yang teramat sangat?

Bosan sama makanan yang itu-itu saja. Bosan pergi ke tempat yang itu-itu saja. Bosan dengan pekerjaan yang begitu-begitu saja dan gaji yang juga segitu-segitu saja. Bosan karena selalu mendengarkan curhatan yang itu-itu saja. Bosan sama pasangan? Atau paling buruk, bosan hidup!

Seribu satu alasan lain untuk menghalalkan rasa bosan ini. Apalagi jika harus melakukan dan menghadapi sesuatu yang berulang-ulang. Serasa nonton film slow motion dari awal sampai akhir. Segalanya terasa laaaammmmbaaaat dan laaaaammmmmmaaaaa.

Lalu, bagi yang suka melakukan rutinitas? Pernah nggak sih mereka bosan akan susunan kegiatan yang harus dilakukan? Cukup yakin, bahkan bagi si pencinta rutinitas sekalipun (tentunya yang masih normal and not mentally ill) pasti akan 'menyisipkan' sesuatu yang berbeda dalam jadwalnya sendiri sewaktu-waktu jika memerlukan variasi. Walaupun frekuensinya tidak sering tetapi tujuannya memang hanya satu... Supaya tidak bosan.

Sekarang bayangkan, jika anda berada disebuah negara pulau kecil, dengan peraturan 'TIDAK BOLEH' nya lebih banyak dari 'BOLEH' nya, yang tempat hiburannya sangat terbatas dibandingkan dimana kita tinggal dulu. Iya... Seperti negara yang tengah saya tinggali ini.
Kalau biasanya kita bisa jalan-jalan sampai keluar kota, disini tidak ada luar kota. Luar kota buat kami adalah, luar negri. Lebih gaya kedengarannya. Pilihan hanya segelintir, Batam, JB (Johor Baru) atau pulau-pulau kecil seperti Pulau Genting atau Bintan sekalipun.
Batam, saya tidak perlu menjelaskan banyak. Yang rindu akan makanan Indonesia yang enak pasti akan pergi kesana. Johor Baru, untuk belanja barang-barang murah. Karena harganya bisa jauuuhhh lebih murah dari Singapore. Tapi soal keamanan dan kebersihan ditanggung sendiri. Karena suasananya hampir sama kayak di Indonesia, ada preman dan banyak sampah.
Minggu lalu, seorang teman baru saja pulang dari Pulau Genting yang katanya penuh dengan hiburan ala DuFan. Namun, lagi-lagi sayang... tidak lebih besar dari DuFan dan memang tidak se-asik atau se-seru mainan di DuFan. Akhirnya tempat lain yang dikunjungi adalah tempat gambling... Wah! Yang ini jelas nggak fun banget.

Sebut saja Ili. Seorang gadis dari mainland China datang ke negara ini untuk kuliah. Di bulan yang ke 3, rasa bosan sudah sampai pada titik kulminasi. Akhirnya melalui sebuah ruang ngobrol di internet, Ili berhasil menemukan seorang pria yang mampu membunuh rasa bosannya. Hah? Bukan bukan... Pria itu bukan pelawak yang lucu atau seorang entertainer. Seorang pria pekerja kantoran biasa. Namun, dengan adanya pria tersebut, Ili tidak lagi harus menjalani weekend sendirian.

Saya: Jadi? Udah jadian berapa lama?
Ili: 4 bulan sih...
Saya: Wah! Selamat ya...
Ili: Terimakasih (dengan wajah yang flat dan tarikan nafas yang panjang)
Saya: Hmmm... Kenapa?
Ili: Saya sudah bosan dengan dia...
Saya: Lah? Kan baru sebentar pacaran...
Ili: Iya... Tapi dia sangat membosankan...
Saya: Masa? Contohnya apa?
Ili: Hhhh (menarik nafas panjang sekali lagi) Ya, seperti weekend yang lalu. Kami sudah kehabisan ide... Akhirnya saya yang mengeluarkan ide untuk naik MRT. Semua jurusan kami jelajahi. Dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Dan selama itu... mungkin hanya beberapa kalimat yang keluar dari mulut kami masing-masing. Setelah itu, kami pulang.
Saya: Ooohhh...
Ili: Sempat ingin putus dan kepikiran beberapa kali... Tapi saya ragu-ragu.
Saya: Kenapa?
Ili: Takut, nanti tidak ada orang yang menemani saya melewati hari-hari yang membosankan.
Saya: ... (bengong)

Paling tidak, ya paling tidak... ada seseorang yang bisa menemaninya dikala rasa bosan menyerang.

Lucunya, hampir setiap orang Indonesia yang saya temui disini, selalu menanyakan pertanyaan yang sama.

'Sudah berapa lama disini?' dan 'Sudah ada rasa bosan belum?'

Biasanya saya langsung cepat menggelengkan kepala. Karena memang saya merasa baik-baik aja. Tidak merasa bosan sedikitpun (atau memang belum). Negara ini memang kecil, saya juga mengakui, tidak terlalu banyak yang bisa dinikmati. Apalagi pemandangan nature-nya. Enggak banget. Saya pernah dibawa ke salah satu pantai disini. Yang konon, pasirnya pun adalah pasir kiriman dari Indonesia. Duduk berlama-lama dipantai memandangi hamparan air laut dan sign dilarang berenang melewati batas yang sudah ditentukan. Which is cuma 100 meteran kedepan kali? Lebih jauh lagi, yang saya lihat hanyalah kapal tanker dan jumlahnya bisa puluhan. Sangat jauh tentunya jika pemandangan ini harus dibandingkan dengan pemandangan pantai di Bali atau pantai di Pasir Putih, Lampung sekalipun.

Pernah disebuah program TV local, seorang wanita dari Cina yang baru saja pindah karena menikah dengan pria local, mengeluh akan negara ini. Menurutnya, orang-orang disini tidak bisa fun, segala sesuatunya terlalu diatur dan kurang challenging. Mungkin perempuan itu betul.
But, again, bukan berarti mati kutu sampai disitu dan menyerah. Bukan berarti tidak ada jalan keluar. Masih banyak lagi hal-hal yang menyenangkan buat saya. Hal-hal yang tidak penting, cenderung membuang waktu dan terkesan kurang kerjaan. Contohnya:

1. Meleburkan diri di tengah keramaian, duduk di sebuah corner sambil menikmati segelas kopi, teh bahkan ice cream dan memandangi orang yang lalu lalang.

2. MRT riding, dan mencatat apa yang bisa saya temukan disetiap setopan. Entah shopping center atau hanya kios kecil sekalipun.

3. Bahkan duduk di tepi sungai (Boat Quay) atau Esplanade sambil mendengarkan live music dan merasakan angin yang berhembus. Nothing sentimentil kok.

Banyak orang yang sibuk 'memanjakan' hatinya dengan beli ini dan itu. Kill the time with shopping atau pergi ke tempat yang super hingar bingar. Kata Pak Windede, tempat itu berfungsi sebagai 'toilet jiwa'. Hahaha! Tempat membuang rasa kesal, stress dan bosan.

Buat saya, bosan adalah pilihan. Dalam suasana yang paling asik sekalipun, kalau orang tersebut tidak memilih untuk mencoba menikmati, maka rasa bosan tidak akan sungkan-sungkan langsung hinggap. Maka bosan lah yang dipilihnya... :)

And how about you? How do you kill the boring time when it's coming?


PS: To my dearest parents... For those long years, months, weeks, days, hours, minutes and seconds that you have spent with each other... For those smiles, laughters, anger and even sadness... It is an unspoken beauty and you know you both could feel it too... Happy Anniversary! Hebat memang udah 36 tahun bareng dan nggak pake bosen!!! :)


Posted by Fortuna at 3:05 AM || 17 comments



Selamat Datang!!!

Siapa suruh datang Jakarta?
Siapa suruh datang Jakarta?

Tanpa harus disuruh, senyum saya terus mengembang berhari-hari ketika mengetahui bahwa saya akan pulang ke Jakarta.
Bagaimana tidak? Bertemu lagi dengan keluarga, teman dan tentunya anak tercinta.
'Melupakan tugas dan lagi-lagi tugas kuliah untuk sesaat tentunya bisa dimaklumi ya?'
Begitu tanya saya dalam hati untuk menenangkan rasa bersalah karena meninggalkan tugas-tugas dan kewajiban saya sebagai seoarang pelajar.

"Waaahhh asik dong bakal sering nongkrong di PS!" kata seorang teman
"Hihihi! Cukup menggoda juga tuuh. Apalagi , memang sudah lama nggak absen disana." Timpal saya yang memang dulu punya gawe ngabsen di mall-mall Jakarta…
Mungkin kalau ada member card Frequent Dropper/Visitor yang dikeluarkan mall-mall tersebut saya sudah punya puluhan ribu point yang bisa saya gunakan untuk belanja gratis atau parkir gratis seumur hidup mungkin? Dream On!

Anyway... dengan gegap gempita saya menyusun segudang rencana untuk lawatan lima setengah hari di Jakarta nanti. Makan dimana ? Disini, disitu, disinu. Ketemu siapa saja? si ini, si itu, si anu. Belanja apa? ini, itu dan inu. Lalu, berkunjung kemana saja? Kesitu, kesini, kesinu.
Pokoknya scenario sudah terbayang semuanya, segala sesuatu yang sudah lama saya tidak lakukan pastinya akan mengasyikan…

"Ah Jakarta masih macet! Pokoknya sebaiknya dihindari yang namanya keluar rumah." Begitu kata ibu saya di telpon dengan nada misuh-misuh.
"Ya namanya juga Jakarta, kalau nggak macet bukan Jakarta dong Mam?!" Jawab saya tetap dengan nada riang.

Ya memang, detak jantung kota ini terlihat dari tingginya aktivitas kendaraan dan lalu lintas yang lalu lalang. Walau sesungguhnya hati ini mendambakan jalanan yang bebas macet, tapi jika jalanan Jakarta tiba-tiba jadi sepi, rasa hati malah curiga karena itu adalah suatu pertanda aneh buat kita yang sudah biasa tinggal di Jakarta dan mendapatkan pemandangan indah rentetan mobil di jalan-jalan raya, asap knalpot yang hitam, gilanya metromini menelusuri jalan raya dan cara ugal-ugalan para pengendara sepeda motor atau bahkan kendaraan milik Tuhan sekalipun, si mister bajaj yang suka nggak pake mikir kalau mau belok kiri atau kanan... Dan memang hanya Tuhan yang tau kapan dia mau belok...

Pemandangan seperti diatas memang sudah lama sekali tak pernah saya rasakan. Singapore negara yang sangat amat teratur dan transportasi umum juga sangat memadai. Jadi nggak perlu punya mobil pribadi. Kemana-mana tinggal naik MRT, bis atau taxi sebagai alternatifnya. Dan hal yang menjadi favorite saya adalah jalan kaki. Ke kampus, grocery, makan, dll... semuanya bisa dicapai dengan berjalan kaki saja. Selain murah juga sehat.
Hanya memang, dengan kondisi Singapore yang sering diguyur hujan, saya jadi lebih sering memilih taxi untuk bepergian. Maklum, karena saya sudah berkali-kali terpeleset ketika tengah berjalan kaki atau menyebrang jalanan. Soal sakit dan kaki jadi biru-biru sudah biasa... tapi siapa yang bisa mengobati rasa malu??? Muka kan nggak bisa saya copot dan dikantongi untuk sementara?

Anyway...

Walau pesawat yang saya tumpangi mengalami keterlambatan selama 1 jam, padahal semua penumpang sudah didalam kabin dengan suhu kabin seperti tungku pemanas, akirnya... mendaratlah kami semua di Jakarta dengan selamat.
Ketika mengantri untuk mendapatkan cap dari petugas imigrasi, saya mendapatkan seorang mas-mas pipi tembem dengan kumis semi tebal dan begini tanyanya...

Petugas: "Liburan sekolah atau cuti kerja mbak?" dengan nada genit
Saya: "Mmmm... nggak dua-duanya pak... lagi pingin pulang aja..." jawab saya dengan santai
Petugas: "Emang rumahnya dimana?" sambil membolak balik halaman paspor milik saya
Saya: ... (saya hanya diam dan tersenyum masam!)

Keluar dari antrian imgrasi yang kayak ngatri sembako, saya mencari troley untuk mengangkut koper...

"Eh!!! Awas mbak ada yang jatoooh tuuh...!"

Lagi-lagi mulut iseng petugas di bandara yang lagi kongkow-kongkow di dekat troley station...
Ahhh... Sudah lama memang saya tidak mendengar ocehan-ocehan seperti ini. Belum sekalipun saya mendapatkan lontaran komentar bernada seperti ini selama saya di rantauan.

Akhirnya, karena menumpuknya jumlah penjemput di pintu keluar akhirnya kami memilih untuk mencari meeting point yang less crowded...

"Taxi mbak?" tanya seorang pria setengah baya yang menghampiri saya. Mungkin ada sekitar 4 orang yang menawarkan jasa taxi, taxi gelap. Karena mereka tidak memakai seragam supir taxi yang biasanya. Lalu ada satu orang pria jangkung menghampiri saya lagi...

"Mbak taxinya?" tawarnya sambil tersenyum
"Nggak pak makasih..." jawab saya sambil menggeleng...
"Kenapa mbak???"tiba-tiba si mas jangkung bertanya lagi...

Saya hanya memandangi wajah pria tersebut dengan heran... Ngapain juga dia nanya lagi? Lah saya memang nggak mau... Apakah harus memberikan alasan... Lalu saya ngeloyor pergi...

Hari-hari di Jakarta diwarnai dengan hujan dan macet. Seperti hari Senin lalu... Setelah menjemput Rani dari sekolahnya, kami sempat meluangkan waktu di CITOS, salah satu tempat yang dulu juga sering saya kunjungi. Tidak lama hanya 1 jam karena masih harus menuju ke daerah Pusat dan ada janji dengan seorang teman.

Baru sampai perempatan Prapanca dan Jeruk Purut, hujan deras disertai angin yang super kencang terjadi. Wah! Udah lama saya nggak lihat pemandangan seperti ini. Pikiran saya hanya satu... Banjir dan macet! Mati deh! Mana jarak yang ditempuh masih panjang... Namun karena jarak pandang semakin pendek, mobil tidak bisa melaju dengan cepat... Yang saya lihat hanya ranting pohon yang berterbangan... Pemandangan ini mengingatkan saya pada hujan badai di tahun 2004 awal... Hujan es dan tumbangnya pohon-pohon besar di sepanjang jalan.
Segera saya nyalakan radio untuk mencari informasi seputar lalu lintas...

Tak terasa sudah 1,5 jam saya di jalanan. Rasanya lelah... hanya bisa duduk dan duduk. Kaki sudah mulai pegal dan linu-linu... Rasanya ingin mengumpat! Tapi ada anak... Muka saya memang sudah tidak bisa dibohongi lagi... Saya sedang kesal sekesal-kesalnya! Bete seada-adanya! Bagaimana tidak? Saya punya segudang rencana dan kini rencana itu hanya bisa saya telan! Dan semua ini karena hujan! Eh bukan! Bukan hanya karena hujan! Karena kebanyakan mobil di Jakarta yang buat macet! Karena saluran pembuangan airnya nggak beres! Karena banyak sampah! Karena nggak disiplin! Karena pemda nya nggak becuussss! Huaaahhhhh! 3 jam sudah saya lewati dengan mengumpat, dalam hati tentunya (lama bener!)

Isi berita di koran esok harinya:
1. Billboard segede gaban jatuh menimpa 2 mobil dan melintang di rel kereta api di pejompongan. Tidak ada korban nyawa. Korban kaget pastinya!
2. Sebuah antene pemancar salah satu TV swasta yang sedang dibangun, tumbang dan menimpa rumah penduduk. 3 orang tewas.

Siapa suruh datang Jakarta?
Siapa suruh datang Jakarta?


*Hiks!!!*


Posted by Fortuna at 2:05 PM || 14 comments


Behind The Stage

Fortuna, Singapore
a student, a fashion marketer a.k.a fashion slave, and a proud mother
of an adorable daughter.



Latest Parade

  • Sebuah Pengakuan
  • Singapore's Sky
  • Parklane Yang Menghibur
  • 'AA'! Help!
  • Membayar Hutang
  • Perusahaan Keluarga
  • Wierdo Wierdo on The Wall
  • Suka Duka Pejalan Kaki
  • Happy Easter
  • Yoohoo!

  • Portfolios

  • November 2005
  • December 2005
  • January 2006
  • February 2006
  • March 2006
  • April 2006
  • May 2006
  • September 2006
  • October 2006
  • February 2007

  • Front Row

  • Arief - Singapore
  • Bunda Inong - Singapore
  • Cyan - Singapore
  • Hany S - Singapore
  • Loucee - United Kingdom
  • Monica W - Indonesia
  • Putri S - Indonesia
  • Triesti - Netherland
  • Windede - Indonesia

  • Peek Me!

  • Amy Woriwun - Indonesia
  • Atta - Indonesia
  • Dapur Bunda
  • DesigNani - Indonesia
  • Eliza's Kitchen
  • Pei^_^ - USA
  • Fitri - USA
  • 'Ka - USA
  • Kere Kemplu - Indonesia
  • Maknyak - Canada
  • Meiy - Indonesia
  • Modjo - Netherland
  • Nadia - Indonesia
  • Ophi - Germany
  • Principessa - Aussie
  • Rita - Indonesia
  • Shendy - Indonesia

  • Little Indulgence

  • DIESEL
  • Fashion Week
  • Flip Flop Sandal
  • Hint Fashion Magazine
  • MAGIC Show
  • Messy Muse
  • My Fashion Life
  • Style Bytes
  • The Fashion Spot
  • Woman's Wear Daily Magazine
  • Worth Global Style Network

  • Name :
    Web URL :
    Message :
    smileys


    Credits

  • Blogskin: LOUCEE.COM
  • Blogtool: Blogger
  • Shoutbox: Oggix




  • Lilypie Baby PicLilypie Baby Ticker